YEU dan RS Panti Rahayu Gelar Pelatihan PPGD bagi Relawan FPRB di Pati. (Foto : Ist).
Pati, metropuncak.com | YAKKUM Emergency Unit (YEU) dengan dukungan Anglican Overseas Aid (AOA) menyelenggarakan Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi relawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan masyarakat Desa Tunggulsari, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada 26–27 Oktober 2026. Pelatihan dua hari itu merupakan hasil kolaborasi YEU dengan RS Panti Rahayu.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama secara tepat dan aman, terutama saat terjadi bencana maupun situasi darurat.
Peserta memperoleh pembelajaran teori dan praktik mengenai prinsip pertolongan pertama, etika penolong, penanganan luka dan patah tulang, pengenalan dasar Resusitasi Jantung Paru (RJP), teknik evakuasi korban, serta mekanisme rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Project Manager YEU Pati, Eli Sunarso, menyampaikan bahwa pembentukan FPRB di empat desa dampingan YEU di Kabupaten Pati menjadi modal penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat. Namun, keberadaan forum tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas relawan.
“Melalui pelatihan PPGD, kami mendorong relawan dan masyarakat agar mampu mengenali kondisi kegawatdaruratan serta memahami langkah-langkah pertolongan pertama sebelum bantuan tenaga medis atau pihak berwenang tiba di lokasi,” jelas Eli.
Ia menambahkan, pelatihan PPGD direncanakan berlangsung selama dua hari di setiap desa dampingan YEU, yaitu Desa Tunggulsari, Desa Keboromo, Desa Banyutowo, dan Desa Tegalombo.
Setelah Desa Tunggulsari, kegiatan akan dilanjutkan di Desa Keboromo, Kecamatan Tayu, serta Desa Banyutowo dan Desa Tegalombo, Kecamatan Dukuhseti. Pelatihan di Desa Tunggulsari dan Desa Keboromo melibatkan RS Panti Rahayu sebagai fasilitator, sedangkan pelatihan di Desa Banyutowo dan Desa Tegalombo direncanakan difasilitasi oleh Puskesmas Kecamatan Dukuhseti.
Selain keterampilan teknis, peserta mendapatkan pembekalan mengenai prinsip kerja relawan penanggulangan bencana. Materi ini menekankan pentingnya memahami peran, kapasitas, tanggung jawab, serta etika dalam menjalankan tugas kemanusiaan.
Fajrin Husni Hamzah, pemateri pengantar prinsip kerja relawan, menegaskan bahwa kemauan untuk membantu perlu disertai kemampuan dan pemahaman terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan.
“Setiap orang dapat menjadi relawan penanggulangan bencana sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Menjadi relawan tidak cukup hanya bermodalkan kemauan, tetapi juga harus dibekali dengan kemampuan. Dalam menjalankan tugasnya, relawan perlu mengedepankan kode etik dan prinsip kemanusiaan,” tegas Fajrin.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan mengenai prinsip pertolongan pertama dan penanganan awal kondisi kegawatdaruratan. Pembelajaran dilanjutkan pada hari kedua melalui praktik dan simulasi penanganan luka, patah tulang, RJP, evakuasi, serta rujukan korban.
Peserta diharapkan mampu memahami tindakan awal yang tepat dan aman, mengenali batas kemampuan sebagai penolong, serta mengetahui kapan harus meminta bantuan tenaga kesehatan.
Pelatihan ini diikuti sekitar 45 peserta yang terdiri atas masyarakat dan anggota FPRB Desa Tunggulsari, serta perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Kecamatan Tayu, Bintara Pembina Desa (Babinsa), Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Pati, dan Lembaga Daya Dharma Sinode Gereja Injili di Tanah Jawa (LDS GITJ).
Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, mengapresiasi upaya YEU dalam memfasilitasi peningkatan kapasitas masyarakat dan anggota FPRB di desanya. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan ketika menghadapi situasi darurat.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada YEU yang telah memfasilitasi pelatihan bagi masyarakat dan anggota FPRB Desa Tunggulsari. Saya yakin kegiatan ini bukan sekadar teori, tetapi juga disertai praktik. Harapannya, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat bermanfaat ketika masyarakat menghadapi situasi darurat,” ungkap Setyo.
Bagi peserta, pelatihan ini menjadi kesempatan memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Alfi Ni’ma Khudziana, perwakilan pemuda Desa Tunggulsari, mengungkapkan bahwa pelatihan PPGD memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermanfaat. Ia tertarik pada materi RJP dan penanganan patah tulang.
“Pelatihan hari ini sangat seru dan bermanfaat, terutama materi tentang RJP dan penanganan pada patah tulang. Kiranya setelah kegiatan ini, kami dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat bencana sebagai relawan,” ungkap Alfi.
Apresiasi serupa disampaikan Wahyututur, peserta dari PPDI Pati yang baru pertama kali mengikuti pelatihan PPGD. Menurutnya, kegiatan ini membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk belajar dan memahami tindakan yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.
“Pelatihan ini menyenangkan karena saya sebelumnya juga belum pernah mengikutinya. Jadinya nanti jika di masyarakat ada yang membutuhkan, saya tahu apa yang bisa dilakukan. Materi paling menarik adalah terkait RJP karena kasus tersebut paling sering ditemui. Harapannya, ke depannya akan ada keberlanjutan, tidak berhenti pada dasar-dasarnya saja, dan pelatihan ini juga bisa dilakukan bagi anggota PPDI,” terang Wahyu.
Keterlibatan berbagai unsur masyarakat, termasuk pemuda dan penyandang disabilitas, dinilai penting dalam membangun kesiapsiagaan bencana yang kolaboratif dan inklusif.
Setiap orang perlu memiliki kesempatan memperoleh pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi situasi darurat sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.
Melalui pelatihan ini, YEU berharap keterampilan peserta dalam memberikan pertolongan pertama semakin meningkat. Kegiatan ini juga diharapkan memperkuat kolaborasi antara FPRB desa, pemerintah desa, dan layanan kesehatan, khususnya dalam komunikasi serta mekanisme rujukan ketika terjadi kondisi darurat.
Sebagai tindak lanjut, peserta diharapkan dapat membagikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada kelompok masyarakat lainnya agar manfaat pelatihan menjangkau lebih banyak warga.













