Pendidikan Tak Kenal Usia! Ribuan Pegiat PKBM Se-Jawa Barat hingga NTB Bergelora di Cianjur. (Foto : SMR).
Cianjur, metropuncak.com | Lapangan Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, mendadak berubah menjadi lautan semangat pada Jumat (18/9/2026).
Bukan karena pesta rakyat, melainkan karena ribuan pegiat pendidikan nonformal dari berbagai penjuru nusantara berkumpul dalam satu denyut Gema Tunas ke-V PKBM SHB Se-Jawa Barat.
Acara ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi panggung besar gerakan pendidikan masyarakat yang menyerukan satu hal krusial akses pendidikan harus terbuka bagi siapa saja, tanpa terkecuali.
Kehadiran Bupati Cianjur, dr. Muhamad Wahyu Ferdian, bersama jajaran Forkopimda dan PKBM se-Kabupaten Cianjur, menegaskan bahwa persoalan pendidikan masyarakat tak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Di hadapan peserta, Wahyu membuka fakta yang menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Ini jadi perhatian kita semua di Kabupaten Cianjur yang tidak bersekolah cukup tinggi. Kita ingin melakukan pemasaran pendidikan kepada masyarakat, bagi usia wajib belajar kita dorong untuk belajar,” tegasnya.
Ia pun menyoroti posisi strategis PKBM sebagai jembatan bagi warga yang tak sempat menempuh pendidikan formal. Menurutnya, semangat belajar tidak boleh dibatasi usia. Bahkan mereka yang sudah berusia 60 hingga 70 tahun, kata Wahyu, tetap berhak menimba ilmu di PKBM wilayah masing-masing.
“Usia tidak seharusnya menjadi tembok yang menghalangi seseorang untuk menuntut ilmu,” ujarnya.
Yang membuat Gema Tunas ke-V kali ini istimewa peserta dan pegiat PKBM tak hanya datang dari Jawa Barat. Perwakilan dari Banten, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB) turut ambil bagian.
Pertemuan lintas wilayah ini menjadi ruang memperkuat jejaring dan semangat kolektif dalam mengembangkan pendidikan nonformal di Indonesia.
Dari Lapangan Sarongge, satu pesan kuat menggema pendidikan tidak mengenal kata terlambat. Selama masih ada keinginan untuk belajar, pintu pengetahuan harus tetap terbuka bagi siapa saja, di mana pun, dan berapa pun usianya.
Gema Tunas ke-V bukan akhir, melainkan titik nyala. Sebab pendidikan masyarakat bukan proyek sesaat, melainkan gerakan panjang yang menuntut kolaborasi lintas sektor agar tak berhenti pada wacana.








