Irigasi Rp50 Juta di Cibeber Diduga “Bocor”, Warga Cipadang Gunung Minta Audit!. (Lesmanaderi).
Cianjur, metropuncak.com | Proyek saluran irigasi di Kampung Cipadang Gunung, Desa Kanoman, Kecamatan Cibeber, mendadak jadi perbincangan panas. Pasalnya, anggaran senilai Rp50 juta yang bersumber dari uang rakyat dinilai tak sebanding dengan hasil fisik di lapangan. Warga menilai ada ketidakwajaran dalam penggunaan dana tersebut.
Salah seorang warga, Dede Hermawan, mengungkapkan kejanggalan pada rincian anggaran dua tahap pekerjaan. Di tahap awal, disebutkan biaya dua unit mobil pasir mencapai Rp2 juta dan batu Rp1,7 juta. Padahal, material batu disebut warga diambil langsung dari lokasi sekitar.
“Untuk semen 30 sak, yang terpakai hanya 25 sak. Sisanya diklaim hilang atau di mana? Belum lagi ada tambahan pipa paralon dan ember,” ujar Dede dengan nada kesal, Kamis (24/7/2026) lalu.
Setelah protes menggema, barulah ada perbaikan berupa tambahan 5 sak semen dan satu mobil pasir seharga Rp1 juta. Namun, hitung-hitungan upah harian justru memicu pertanyaan baru: untuk 5 hari kerja, total upah 2 tukang dan 6 kenek hanya Rp1,08 juta angka yang dinilai tidak masuk akal dibandingkan volume pekerjaan.
“Ini bukan cuma soal saluran irigasi. Kami minta semua proyek pembangunan di Desa Kanoman diaudit secara terbuka. Jangan sampai ada spekulasi liar yang merugikan keuangan desa,” tegas Dede.
Menanggapi aduan tersebut, Inspektorat setempat memastikan langkah cepat. Endan Hamdani mengungkapkan, timnya sudah menerima laporan dan akan segera turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan mendalam.
“Kami sudah terima aduannya. Tim akan segera melakukan pemeriksaan,” ujarnya singkat.
Sementara itu, saat dikonfirmasi pada Senin (27/7/2026) pagi, pejabat tertinggi desa berdalih masalah telah selesai. Disebutkan, Camat dan Pjs Kades Kanoman telah melakukan mediasi dengan empat orang perwakilan media di kantor kecamatan. Bahkan, pekerjaan disebut sudah dalam tahap monitoring dan evaluasi (Monev).
Namun, alasan tersebut belum meredakan kecurigaan warga. Mereka mendesak transparansi anggaran secara utuh, agar misteri di balik pembangunan irigasi ini tidak berakhir sebagai cerita tak jelas.
“Kami ingin angka-angka itu jelas. Jangan sampai uang rakyat lenyap begitu saja,” pungkas Dede.














