Aksi Kolaborasi Penanaman Mangrove di Banyutowo Perkuat Komitmen Bersama Menjaga Pesisir

Aksi Kolaborasi Penanaman Mangrove di Banyutowo Perkuat Komitmen Bersama Menjaga Pesisir. (Foto : Ist).

Pati, metropuncak.com | Semangat kolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan diwujudkan melalui Aksi Kolaborasi Penanaman Mangrove yang diselenggarakan oleh Komunitas Mangrove Tunggul Wulung, Desa Banyutowo, Kabupaten Pati, pada 6 Oktober 2026.

Kegiatan ini melibatkan sekitar 25 lembaga dan organisasi dengan lebih dari 200 peserta. Para peserta berasal dari berbagai unsur, antara lain Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan, organisasi masyarakat, sekolah, gereja, lembaga Kristen, TNI/Polri, serta dinas terkait di Kabupaten Pati.

Aksi penanaman mangrove ini dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-165 GITJ Banyutowo sekaligus memperingati Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran dan komitmen bersama bahwa upaya pengurangan risiko bencana dan pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan serta kolaborasi dari berbagai pihak.

Ketua Komunitas Mangrove Tunggul Wulung Desa Banyutowo, Setyo Utomo, menyampaikan bahwa penanaman mangrove merupakan bentuk nyata kepedulian komunitas, GITJ Banyutowo, masyarakat, dan para mitra dalam merawat serta menjaga ekosistem pesisir.

Menurutnya, upaya tersebut semakin penting mengingat kondisi lingkungan pantai yang semakin kritis akibat abrasi yang diperparah oleh dampak perubahan iklim.

“Kegiatan penanaman mangrove ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, baik dalam bentuk tenaga, sumber daya, maupun pendanaan. Secara khusus, dukungan pendanaan untuk pelaksanaan kegiatan ini berasal dari Forestry and Other Land Use (FOLU), Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jejaring Komunitas Kristen untuk Penanggulangan Bencana di Indonesia (JAKOMKRIS PBI), YAKKUM Emergency Unit (YEU), GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah, OISCA, Lembaga Diakonia Sinode (LDS) GITJ, serta GITJ Banyutowo,” ujar Setyo Utomo dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Utomo menyampaikan bahwa sebanyak 2.500 pohon mangrove ditanam, sementara 500 pohon lainnya disiapkan untuk mendukung kegiatan perawatan.

“Ada 2.500 pohon mangrove yang kita tanam, dan 500 pohon kita siapkan untuk perawatan. Dukungan dari berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan kegiatan kolaboratif ini, sekaligus menunjukkan adanya komitmen bersama dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan pesisir dan pengurangan risiko bencana di Desa Banyutowo. Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada penanaman, tetapi dilanjutkan dengan pemeliharaan dan perawatan agar mangrove dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta lingkungan,” tambahnya.

Camat Dukuhseti, Hartono, S.H., yang turut hadir dan memberikan sambutan, menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan penanaman mangrove yang dilaksanakan oleh Komunitas Mangrove Tunggul Wulung.

“Pada hari ini saya sangat senang dengan apa yang dilakukan oleh Komunitas Mangrove Tunggul Wulung. Kita bersama-sama melakukan penanaman mangrove dengan harapan dapat mencegah abrasi yang semakin tinggi ancamannya. Ini juga merupakan wujud nyata kepedulian komunitas terhadap kelestarian lingkungan. Saya menyampaikan selamat ulang tahun yang ke-165 kepada GITJ Banyutowo. Semoga semakin maju ke depannya,” ujar Hartono dalam sambutannya.

Ketua Badan Pelaksana JAKOMKRIS PBI, Arshinta, sebagai salah satu mitra pendukung kegiatan, turut menyampaikan apresiasi dan harapannya terhadap aksi kolaborasi penanaman mangrove tersebut.

Ia menekankan pentingnya peran gereja dalam mendukung upaya pengurangan risiko bencana dan membangun ketangguhan masyarakat.

“Gereja adalah bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat luas. Ketika desa tempat gereja berada dan masyarakat hidup menghadapi ancaman bencana, apapun bentuk ancamannya, gereja harus berperan aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana, termasuk melalui mitigasi dan kesiapsiagaan,” ungkap Arshinta.

Menurutnya, keterlibatan GITJ Banyutowo dalam upaya menjaga lingkungan pesisir merupakan contoh konkret peran gereja di tengah masyarakat.

“Masyarakat Banyutowo prihatin melihat abrasi dengan laju yang relatif cepat sehingga dalam kurun waktu relatif pendek, dan berdampak pada hilangnya beberapa daratan di pesisir pantai Banyutowo,” tambahnya.

Semangat menjaga lingkungan pesisir juga datang dari masyarakat Desa Banyutowo. Dasi, salah seorang warga lanjut usia yang turut berpartisipasi dalam kegiatan, menyampaikan apresiasinya terhadap aksi penanaman mangrove.

Ia berharap upaya menjaga lingkungan pesisir dapat memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

“Saat ini saya berusia lebih dari 70 tahun dan tinggal di Desa Banyutowo. Saya senang sekali dengan adanya kegiatan ini. Kegiatan ini merupakan bagian dari usaha kita untuk menjaga pesisir pantai, sehingga anak cucu kita ke depan dapat hidup lebih aman dari ancaman bencana,” ujar Dasi.

Kegiatan penanaman mangrove dimulai pada pukul 08.00 WIB, diawali dengan upacara pembukaan dan sosialisasi. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan aksi penanaman mangrove dan berakhir pada pukul 11.00 WIB. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta.

Melalui aksi kolaboratif ini, Komunitas Mangrove Tunggul Wulung bersama GITJ Banyutowo, masyarakat, pemerintah, lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, serta berbagai mitra menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dan pengurangan risiko bencana merupakan tanggung jawab bersama.

Penanaman mangrove di Banyutowo diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga ekosistem pesisir, mengurangi risiko abrasi, meningkatkan ketangguhan masyarakat, serta mewariskan lingkungan yang lebih aman dan lestari bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *