Kemarau Belum Usai, Kolaborasi Hijau Garut Rela Bolak-balik Bawa Ember Demi Selamatkan Tanaman

Relawan Kolaborasi Hijau Garut rela bolak-balik bawa ember untuk menyiram tanaman demi selamatkan hutan. (Foto : Rians).

Garut, metropuncak.com | Musim kemarau belum juga berlalu. Di tengah keterbatasan sumber dan jangkauan air, Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut kembali mendaki Bukit Cintakembar, Kp. Cintakembar, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Bukan untuk menanam bibit baru, melainkan untuk merawat tanaman yang beberapa bulan lalu mereka tanam.

Melalui Aksi ke-104, Sabtu (26/9/2026), tim tidak hanya melakukan penyiraman. Mereka juga melakukan geotagging dan pemeliharaan tanaman yang ditanam pada April lalu.

Bagi Kolaborasi Hijau, penghijauan tidak selesai ketika bibit ditanam dan dokumentasi diambil. Justru ujian sesungguhnya datang setelahnya: saat tanaman harus bertahan menghadapi panas, kekeringan, keterbatasan air, dan medan yang sulit dijangkau.

Penyiraman sebenarnya dilakukan menggunakan mesin. Namun, kontur Bukit Cintakembar membuat aliran air belum mampu menjangkau seluruh titik tanaman. Ratusan tanaman masih berada di luar jangkauan selang.

Tak ingin tanaman dibiarkan menghadapi kemarau sendirian, tim pun mengambil cara sederhana namun melelahkan: bolak-balik mengangkut air dengan ember dari titik sumber air menuju tanaman yang belum tersiram.

Pekerjaan itu jelas membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak. Namun, keterbatasan sarana tidak menjadi alasan untuk berhenti merawat.

Di antara teriknya musim kemarau dan medan yang menantang, ember demi ember air dibawa menuju tanaman. Sederhana, tetapi menjadi bagian penting dari ikhtiar mempertahankan kehidupan yang pernah ditanam bersama.

Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni, turut turun langsung dalam kegiatan pemeliharaan tersebut. Keterlibatan pengurus di lapangan menjadi bagian dari komitmen agar penghijauan tidak berhenti pada seremoni penanaman.

Bagi Kolaborasi Hijau, jumlah pohon yang ditanam bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Tanaman harus dirawat, dipantau, dan dijaga agar berkesempatan tumbuh menjadi vegetasi yang memberi manfaat ekologis jangka panjang.

Sementara itu, Sekretaris Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Cepi Gantina, turut terlibat dalam pemeliharaan dan pendataan di lapangan, termasuk geotagging titik-titik tanaman. Geotagging dilakukan untuk menandai dan mendokumentasikan lokasi tanaman secara lebih terukur, sehingga keberadaan dan kondisinya dapat ditelusuri kembali pada kegiatan pemeliharaan berikutnya.

Dengan begitu, penghijauan tidak hanya meninggalkan jejak berupa foto kegiatan, tetapi juga mulai membangun data lokasi tanaman yang berguna untuk monitoring, penyulaman, dan evaluasi.

Langkah ini menjadi penting karena di lapangan ditemukan sejumlah tanaman yang mati akibat kekeringan. Tanaman yang mati akan disulam dengan tanaman pengganti, sehingga titik-titik tanam yang kehilangan tanaman tetap dapat dipulihkan.

Kondisi di Bukit Cintakembar menunjukkan bahwa tantangan terbesar penghijauan sering kali bukan saat menanam, melainkan setelah penanaman selesai. Ketika hujan belum turun dengan cukup, tanaman membutuhkan perhatian lebih. Air harus dicari, diangkut, dan diberikan secara bertahap. Tanaman yang mati harus diganti. Titik tanam harus dipantau.

Aksi ke-104 menjadi pengingat: penghijauan bukan sekadar menanam pohon, tetapi membangun tanggung jawab untuk merawat kehidupan yang telah ditanam.

Dari Bukit Cintakembar, pesan itu kembali ditegaskan tanam, rawat, jaga.

Karena satu pohon yang berhasil hidup dan tumbuh jauh lebih berarti daripada seribu bibit yang hanya tercatat pernah ditanam. Dari tanam menjadi tumbuh. Dari aksi menjadi tradisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *