H. Mudrikah S.Ag., M.M motivator muda ketahanan langan. (Foto : Ramdani).
Cianjur, metropuncak.com | Di tengah gempuran stigma bahwa bekerja di kota lebih bergengsi, seorang pria paruh baya justru memilih jalan berbeda. H. Mudrikah, S.Ag., M.M, seorang motivator yang rela meninggalkan hiruk-pikuk perkotaan, kini menekuni dunia pertanian dan peternakan di pinggiran Kota Cianjur.
Keputusannya ini bukan tanpa alasan, ia ingin membuktikan bahwa menjadi petani dan peternak adalah profesi yang mulia dan strategis bagi masa depan bangsa.
Membangun Ketahanan Pangan dari Desa
Melalui demplot atau demonstration plot yang ia kelola, H. Mudrikah aktif membudidayakan berbagai komoditas pangan seperti cabai, buncis dan sayuran lainnya. Area tersebut sejatinya dipersiapkan sebagai lahan persemaian. Namun, karena musim kemarau panjang yang membuat kadar air sangat kurang, ia beradaptasi dengan menanam melon madu.
“Alhamdulillah, pertumbuhannya sangat bagus,” ujarnya penuh syukur.
Ia menegaskan, langkah ini bukan sekadar bercocok tanam biasa, melainkan bagian dari upaya besar mendukung ketahanan dan swasembada pangan di semua tingkatan, seluruh Indonesia.
Ajakan untuk Anak Muda
H. Mudrikah tak henti mengajak generasi muda, khususnya yang ada di desa dan karang taruna, untuk ikut ambil bagian.
“Sudah saatnya kita ambil bagian, karena memang negara ini hadir untuk ketahanan dan swasembada pangan. Apalagi di Kabupaten Cianjur, tanahnya sangat luar biasa subur. Rasa iri ataupun malu beradaptasi di lingkungan untuk bercocok tanam harus kita kesampingkan,” tegasnya.
Ia mengingatkan, jika hari ini anak muda tidak aktif dan berkolaboratif, mereka akan ketinggalan.
“Dis saat kita mau berkarya dalam bentuk apapun, di situ akan ada hasil. Yang penting mau berproses dan bersemangat,” tambahnya.
Antara Nekad dan Tekad
Pria paruh bayu itu mengaku sebagai “orang nekad”, H. Mudrikah menekankan bahwa kenekadannya selalu dibarengi dengan tekad, niat sungguh-sungguh, dan kerja keras dan hasilnya pun ia rasakan sendiri seperti kita lihat.
Ia berpesan kepada anak muda agar tidak terlalu berharap tanpa berbuat. Menurutnya, banyak anak muda yang begitu lulus sekolah langsung merantau ke kota mencari kerja, padahal belum tentu langsung mendapatkannya. Padahal, setiap daerah memiliki potensi yang bisa digarap.
“Yang penting kuatkan niat, jaga integritas, dan jangan pernah ngoyo,” pesannya.
Bangga Menjadi Petani
H. Mudrikah mengaku bangga menjadi petani dan pekebun. Baginya, profesi ini secara tidak langsung mampu memberdayakan masyarakat dan menekan angka urbanisasi, sehingga anak muda di Desa Sukarame ini misalnya, tidak harus keluar hanya untuk mencari cuan.
Kini, ia tengah membuka kawasan agro yang tidak hanya bergerak di bidang perkebunan, tetapi juga peternakan. Beberapa jenis ternak sudah dijalankan, seperti ayam kampung dan domba Garut. Bahkan, di bulan ini ia berencana membuka peternakan ayam petelur.
“Ketika ini sudah trail, kita buka serapan untuk lapangan kerja akan semakin bertambah,” harapnya.
Pesan Penutup
Di akhir pesannya, H. Mudrikah menegaskan, “Jangan malu kita berkebun, jangan malu setiap hari mengolah lahan, jangan malu kotor-kotoran. Karena sekali lagi saya sampaikan, kita harus malu ketika kita tidak berbuat apa-apa, tidak bisa menciptakan sebuah karya,” pesannya.
Kisah H. Mudrikah menjadi bukti nyata bahwa pertanian dan peternakan bukanlah pilihan terakhir, melainkan jalan mulia untuk membangun negeri.
Sudah saatnya anak muda bangga menjadi petani dan peternak!.














