Hari Santri di Cikahuripan: Bukan Sekadar Menanam, Santri Garut Turun Tangan Jaga Mata Air. (Foto : Rians).
Garut, metropuncak.com | Hutan yang kian menyusut bukan alasan untuk diam. Di tengah kekhawatiran atas berkurangnya tutupan hutan, upaya menjaga sumber mata air justru menuntut aksi nyata dan kolaborasi lintas sektor.
Di momentum Hari Santri Nasional 2026 tahun ini dimanfaatkan Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut bersama Relawan Nurfa Peduli dan Pondok Pesantren Nurul Falah untuk merawat lingkungan melalui Eco-Action Hari Santri Nasional di Sumber Mata Air Cikahuripan, Kampung Olan, Desa Barusuda, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, Minggu (25/10/2026).
Memasuki aksi ke-109, kegiatan ini bukan sekadar seremoni tanam pohon. Para peserta melakukan pemeliharaan tanaman, pendataan titik koordinat tanaman melalui geotagging, serta penanaman pohon beringin, nangka, manglid, dan ganitri.
Langkah itu menjadi bagian dari ikhtiar menjaga vegetasi di kawasan sumber mata air sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap kelestarian lingkungan.
Aksi tersebut melibatkan tim Kolaborasi Hijau Garut, Relawan Nurfa Peduli, santri dan pimpinan Pondok Pesantren Nurul Falah, serta mahasiswa KKN Gradasi Kelompok 16.
Perwakilan Pondok Pesantren Nurul Falah, Ustadz Deden, menyampaikan bahwa keterlibatan santri dalam penghijauan merupakan bentuk pengabdian nyata kepada alam dan masyarakat.
“Alhamdulillah, di momen peringatan Hari Santri Nasional tahun 2026 ini, kita berkolaborasi dengan Kolaborasi Hijau Garut melaksanakan penanaman pohon. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu ikhtiar kita untuk menghijaukan alam dan santri ikut dalam ikhtiar yang dilakukan secara kolaborasi ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Asep Farid, Kepala Desa Barusuda, mengapresiasi kolaborasi tersebut. Menurutnya, kondisi hutan yang semakin gundul menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
“Saya berharap pemerintah turut mendukung gerakan penghijauan dengan menyediakan bibit yang sesuai dengan karakteristik kawasan dan kondisi lingkungan setempat,” harapnya.
Lebih dari sekadar menanam, kegiatan ini menekankan pentingnya pemeliharaan dan pemantauan tanaman. Melalui geotagging, lokasi tanaman dapat didata untuk membantu proses pemantauan selanjutnya. Sebab, keberhasilan penghijauan tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari keberlangsungan hidup tanaman dan konsistensi perawatannya.
Aksi ini sekaligus menegaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap persoalan ekologis. Menjaga sumber mata air bukan pekerjaan satu kelompok saja, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan masyarakat, lembaga pendidikan, komunitas, dan pemerintah.
Ketika hutan menyusut dan sumber air harus dijaga, kepedulian tidak cukup berhenti pada keprihatinan. Ia harus tumbuh menjadi tindakan nyata.













