Menanam Hari Ini, Menuai Air untuk Generasi, Kolaborasi Hijau di Cikahuripan. (Foto : Ist).
Garut, metropuncak.com | Sebanyak 200 lebih bibit pohon ditanam dalam Aksi Kolaborasi Hijau Ke-88 yang digelar di Sumber Mata Air Cikahuripan, Kampung Olan, Desa Barusuda, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, pada Sabtu (18/7/2026).
Gerakan ini merupakan wujud nyata sinergi antara Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Relawan Nurfa Peduli, Yayasan Ikhwatul Hasanah, serta Mahasiswa KKN IPB.
Namun, sebelum menggenggam cangkul dan menanam bibit di tanah, rombongan lebih dulu disambut hangat oleh ratusan santri baru Pondok Pesantren Nurul Falah yang tengah menjalani MATSABA (Masa Ta’aruf Santri Baru) dan MATA MUDA (Masa Ta’aruf Murid Baru Madrasah).
Momen ini bukan sekadar perkenalan, melainkan ruang edukasi bagi generasi muda bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari akhlak dan tanggung jawab moral.
Aksi penghijauan kali ini berlangsung di dua titik dengan fungsi yang saling melengkapi. Di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Falah, ditanam berbagai pohon buah-buahan. Tujuannya tidak hanya menghijaukan, tetapi juga membangun ketahanan pangan dan potensi ekonomi jangka panjang.
Sementara di kawasan Sumber Mata Air Cikahuripan yang menjadi satu-satunya andalan warga Kampung Olan untuk air bersih ditanam berbagai jenis pohon hutan. Langkah ini menjadi benteng ekologis untuk menjaga resapan air, mencegah erosi, dan memastikan debit mata air tetap stabil sepanjang tahun.
Sekretaris Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Cepi Gantina, menegaskan bahwa menjaga air dimulai dari menjaga hutan.
“Air adalah kehidupan. Jika hutannya terjaga, maka mata air akan tetap mengalir. Penghijauan di hulu bukan sekadar menanam pohon, tapi menanam harapan agar anak cucu kita masih bisa menikmati sumber air yang lestari. Kami sengaja libatkan santri sejak dini karena merekalah penerus estafet menjaga alam,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Yayasan Ikhwatul Hasanah, Arif Maulana Asy’ari, S.Pd., menyebut kolaborasi ini memiliki nilai pendidikan yang dalam. Menurutnya, pesantren tak hanya mendidik ilmu agama, tetapi juga karakter ekologis.
“Menjaga mata air dan menanam pohon adalah bagian dari menjaga amanah Allah sebagai khalifah di bumi. Semoga para santri baru memahami bahwa cinta lingkungan adalah bagian dari iman. Penanaman pohon buah di pesantren juga kami nilai sebagai investasi ekologis, edukatif, dan ekonomis yang akan dirasakan manfaatnya bertahun-tahun ke depan,” tuturnya.
Di lokasi penanaman, peserta tak hanya turun tangan menanam, tetapi juga mendapat pemahaman tentang kesesuaian jenis tanaman. Pohon buah dipilih di area pesantren untuk produktivitas, sedangkan pohon hutan ditanam di kawasan mata air karena akarnya mampu memperkuat struktur tanah, meningkatkan daya serap air, dan menjaga siklus hidrologi.
Kolaborasi antara Paguyuban, Nurfa Peduli, Yayasan Ikhwatul Hasanah, Mahasiswa KKN IPB, santri, dan masyarakat ini menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan bukan kerja individu, melainkan gerakan kolektif. Lebih dari seremoni, Aksi Kolaborasi Hijau Ke-88 adalah langkah berkelanjutan yang memadukan konservasi, pendidikan karakter, dan pengabdian sosial.
Menanam pohon hari ini berarti memastikan air tetap mengalir esok hari. Karena ketika hutan lestari, mata air tak akan pernah berhenti memberi kehidupan.








