Dari Desa untuk Ketangguhan: KAWAN PRB Cianjur Satukan Relawan Hadapi Risiko Bencana. (Foto : Ist).
Cianjur, metropuncak.com | Bencana dapat datang tanpa mengenal waktu. Namun, kesiapsiagaan dapat dibangun jauh sebelum bencana terjadi. Pesan inilah yang ditegaskan oleh Kumpulan Relawan Pengurangan Risiko Bencana (KAWAN PRB) Kabupaten Cianjur melalui kegiatan Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2026 yang berlangsung pada 10–11 Oktober 2026 di Sarongge Valley, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Mengusung tema “Bersama Kita Siaga, Bersatu Kita Tangguh”, kegiatan ini mempertemukan relawan dan jejaring masyarakat dari berbagai desa untuk belajar, berbagi pengalaman, memperkuat koordinasi, serta mempraktikkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Bagi KAWAN PRB, peringatan Bulan PRB bukan sekadar agenda tahunan atau seremoni. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk memastikan bahwa pengetahuan dan pengalaman para relawan tidak berhenti di masing-masing desa, tetapi dapat dipertukarkan, dikembangkan, dan menjadi kekuatan bersama dalam membangun masyarakat yang tangguh bencana.
Beragam materi dibagikan dalam kegiatan ini, meliputi manajemen risiko bencana, keluarga tangguh bencana, pertolongan pertama dan evakuasi aman, penggunaan handy talky dalam situasi tanggap darurat, pemetaan dan penghitungan kebutuhan dasar, pendataan kebutuhan cepat, manajemen logistik, serta dukungan psikososial awal bagi kelompok berisiko.
Ketua KAWAN PRB Cianjur, Budi Santoso, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai ruang diskusi, tetapi juga sebagai sarana belajar dari pengalaman nyata para relawan di lapangan.
“Ketangguhan masyarakat tidak lahir secara instan. Ketangguhan dibangun melalui pengetahuan, pengalaman, latihan, koordinasi, dan kemauan untuk saling membantu. Semangat tersebut kami wujudkan melalui rangkaian kegiatan yang tidak hanya memberikan materi, tetapi juga membuka ruang berbagi pengalaman antardesa melalui sharing session terkait upaya pengurangan risiko bencana,” ungkap Budi.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, peserta mengikuti sesi berbagi materi dan praktik mendirikan tenda. Sementara itu, hari kedua diisi dengan apel PRB dan gladi lapangan untuk menghadapi ancaman gempa bumi.
“Pengetahuan yang selama ini diperoleh tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi juga harus dipraktikkan agar relawan semakin siap menjalankan perannya ketika masyarakat membutuhkan pertolongan. Kegiatan ini diselenggarakan melalui pendanaan mandiri dari para anggota serta dukungan donasi dari mitra,” tambahnya.
Berawal dari Penguatan Relawan Desa
KAWAN PRB Cianjur merupakan wadah kolaborasi relawan pengurangan risiko bencana yang menghimpun unsur Tim Siaga Bencana dan jejaring masyarakat dari sejumlah desa. Dalam menjalankan perannya, KAWAN PRB mengedepankan kode etik dan prinsip-prinsip kemanusiaan.
Wadah ini tumbuh melalui proses penguatan kapasitas dan jejaring yang didampingi oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU) bersama BPBD Kabupaten Cianjur pada November 2022 hingga Mei 2024.
Tim Siaga Bencana dari desa-desa dampingan tersebut kemudian menginisiasi terbentuknya KAWAN PRB Cianjur sebagai ruang untuk memperkuat kerja sama dan koordinasi lintas desa.
Dalam Peringatan Bulan PRB 2026, sekitar 180 peserta dari 11 desa dan satu organisasi relawan hadir dan terlibat dalam kegiatan. Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring, memperkuat solidaritas, serta meningkatkan kapasitas relawan dalam menjalankan peran pengurangan risiko bencana di masyarakat.
Kegiatan ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain BPBD Kabupaten Cianjur, pemerintah kecamatan dan desa, TNI-Polri, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Cianjur, YEU, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Cianjur, Kwartir Ranting (Kwaran) Cugenang, serta organisasi dan kelompok masyarakat lainnya.
Kolaborasi lintas pihak tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat komunikasi, koordinasi, dan kerja sama untuk membangun ketangguhan masyarakat.
Dukungan Pemerintah dan Peran Keluarga dalam Kesiapsiagaan
Camat Cugenang, Ali Akbar, S.Kom., M.AP., yang hadir sekaligus membuka kegiatan, menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap inisiatif yang dilakukan KAWAN PRB Cianjur.
“Saya sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini. Kita perlu terus mendorong semakin banyak masyarakat agar memiliki kesadaran dan pemahaman tentang kebencanaan. Kita memiliki pengalaman menghadapi gempa bumi, dan masih ada ancaman lainnya, seperti erupsi Gunung Gede. Semoga semakin banyak desa dan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan kesiapsiagaan bencana,” tegas Ali Akbar dalam sambutannya.
Selain memperkuat kapasitas relawan, kegiatan ini juga menekankan pentingnya membangun kesiapsiagaan mulai dari lingkup keluarga. Keluarga merupakan salah satu unsur penting dalam membentuk masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
Samsiah, peserta dari Desa Talaga yang juga menjadi pemateri, menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat perlu dimulai dari kesiapsiagaan setiap keluarga.
“Kesiapsiagaan masyarakat harus didukung oleh kesiapsiagaan keluarga. Keluarga tangguh bencana sederhananya adalah keluarga yang memahami ancaman bencana yang ada di lingkungannya, mengetahui tempat yang aman dan jalur evakuasi, serta mendukung dan terlibat dalam kegiatan kebencanaan yang dilaksanakan di desa. Saya sangat senang bisa menjadi peserta sekaligus berbagi pengalaman. Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi dengan relawan dari desa lain,” tutur Samsiah.
Dari Desa, Membangun Ketangguhan Bersama
Peringatan Bulan PRB 2026 menjadi pengingat bahwa upaya pengurangan risiko bencana membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Ketika masyarakat saling terhubung, pengetahuan dibagikan, dan kesiapsiagaan dilatih bersama, kemampuan untuk menghadapi ancaman bencana dapat semakin diperkuat.
Melalui semangat “Bersama Kita Siaga, Bersatu Kita Tangguh”, KAWAN PRB Cianjur terus mendorong tumbuhnya solidaritas dan kolaborasi antarrelawan serta masyarakat lintas desa.
Sebab, membangun ketangguhan bukan hanya tentang mengingat bencana yang pernah terjadi, melainkan juga tentang mempersiapkan diri, keluarga, dan komunitas agar lebih siap ketika bencana kembali datang.








