Galih salah satu Fasilitator, sedang memberikan materi pada peserta pelatihan GEDSI. (Foto : Ist).
PATI | Sebanyak 30 warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, mengikuti Pelatihan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) yang diselenggarakan oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU) melalui program WAVE (Women Advancing in Addressing Climate Vulnerability & Livelihood Empowerment) pada 2–4 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini digelar di Balai Desa Tunggulsari dan diikuti oleh perwakilan kelompok perempuan, penyandang disabilitas, tokoh masyarakat, perangkat desa, serta kelompok sosial lainnya.
Pelatihan ini dirancang untuk membangun pemahaman peserta mengenai konsep dasar kesetaraan gender, hak-hak penyandang disabilitas, serta prinsip inklusi sosial dalam konteks perubahan iklim. Selama tiga hari, peserta diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman terkait kesetaraan dan inklusivitas di lingkungan mereka.
Kegiatan turut dihadiri oleh Sutoro selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Pati. Dalam sambutannya kehadiran BPBD memberikan motivasi tersendiri yang sekaligus menjadi peserta, mengingat masyarakat Tunggulsari merupakan salah satu wilayah yang terdampak banjir rob. Masyarakat pun dapat menyampaikan masukan secara langsung kepada pihak berwenang.
Selain menghadiri pelatihan, BPBD Pati juga meninjau langsung dampak banjir rob yang terjadi di Tunggulsari.
“Saya berharap masyarakat bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan aktif. Ke depannya, kiranya YEU bisa ikut serta mendampingi masyarakat dalam rangkaian penanggulangan bencana, pada khususnya untuk masyarakat dampingan yang terdampak banjir rob. Saya sangat terbuka dalam kerja sama antara YEU dengan BPBD Pati,” ujar Kabid BPBD Kabupaten Pati dalam sambutannya.
Tiga Hari Pelatihan, Tiga Fokus Utama
Rangkaian kegiatan selama tiga hari mencakup pemaparan materi, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab. Hari pertama mengangkat topik GEDSI dan sensitivitas iklim di pesisir Pati, dengan fokus membangun kesadaran bersama mengenai kerentanan yang berbeda antar kelompok dan dampak perubahan iklim di wilayah pesisir.
Hari kedua membahas analisis kritis dan penghidupan berkelanjutan, di mana peserta diajak memahami dinamika kekuasaan dan cara mengelola sumber daya penghidupan agar tidak habis akibat perubahan iklim.
Pada hari ketiga, peserta merumuskan rencana aksi untuk mengurangi ketimpangan GEDSI di tingkat individu, keluarga, dan komunitas dalam adaptasi iklim yang inklusif.
Pelatihan Serupa di Tiga Desa Lain
Kegiatan yang sama juga dilakukan di tiga desa lainnya di Kecamatan Tayu dan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Eli Sunarso, Manajer Proyek YEU Pati, menyampaikan bahwa pelatihan GEDSI ini dilaksanakan selama tiga hari di setiap desa.
“Selain di Desa Tunggulsari, pelatihan serupa juga dilaksanakan di Desa Keboromo, Desa Banyutowo, dan Desa Tegalombo. Keempat desa tersebut berada di Kecamatan Tayu dan Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, serta merupakan desa dampingan YEU hingga tahun 2028,” jelas Eli.
Ia menambahkan bahwa peserta kegiatan berasal dari berbagai kelompok masyarakat, baik perempuan maupun laki-laki, dengan keterwakilan yang beragam.
“Melalui pelatihan ini diharapkan tumbuh kesadaran dan pemahaman bersama mengenai pentingnya saling menghargai, mewujudkan kesetaraan, serta memperkuat kerja sama antara perempuan dan laki-laki dalam membangun ketangguhan desa. Pelatihan ini juga menekankan pentingnya pelibatan kelompok berisiko, seperti penyandang disabilitas dan lanjut usia, dalam setiap upaya membangun ketangguhan dan mengurangi risiko bencana,” ujarnya.
Peserta: Pelatihan Buka Wawasan Baru
Sri Wahyuni, salah satu peserta perwakilan dari kelompok perempuan, mengungkapkan bahwa pelatihan ini membuka cara pandang baru mengenai gender.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk warga kami. Terlebih bagi kami, perempuan-perempuan yang belum tahu apa itu gender, apa itu kesetaraan. Kiranya ke depannya saya dan para perempuan bisa membagikannya pada masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Amiril, perwakilan pemuda yang turut hadir, menyampaikan apresiasinya.
“Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan, terutama terkait perubahan iklim dan hubungannya dengan gender. Ke depan, saya berharap pengetahuan ini dapat menjangkau lebih banyak orang dan tidak terbatas hanya pada masyarakat yang mengikuti pelatihan ini,” ujar Amiril.
Dengan terselenggaranya pelatihan ini, diharapkan masyarakat pesisir Pati semakin tangguh dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim dengan pendekatan yang inklusif dan berkeadilan.











