Ratusan Kios Pasar Ciranjang Masih Sepi. (Foto : Sam Apip).
Cianjur, metropuncak.com | Sedikitnya 300 kios di Pasar Tradisional Ciranjang, Kabupaten Cianjur, telah lama selesai dibangun. Namun, ronisnya ratusan kios tersebut masih sepi dan sebagian terkesan mangkrak tanpa aktivitas perdagangan.
Kondisi seperti ini menjadi sorotan publik, karena berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah tersebut.
Sepinya aktivitas perdagangan di ratusan kios Pasar Tradisional Ciranjang diduga dipengaruhi sejumlah faktor. Mulai dari masih aktifnya bangunan Hanggar Biru yang berada di lokasi paling depan, maraknya transaksi jual beli melalui media online, hingga kurangnya kedisiplinan sebagian pedagang dalam memanfaatkan fasilitas kios yang telah tersedia.
Menghadapi kondisi tersebut, pihak pengelola Pasar Tradisional Ciranjang terus melakukan berbagai terobosan agar kawasan pasar kembali ramai dan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Sejumlah upaya mulai dilakukan, di antaranya menggelar kegiatan senam pagi, membangun kawasan wisata Embung, hingga rencana menghadirkan gedung pelayanan Samsat di lokasi bekas kantor pengelola pasar.
Sementara itu, kantor pengelola Pasar Tradisional Ciranjang akan dipindahkan ke bangunan baru di belakang Pasar Domba, yang saat ini proses pengerjaannya tengah dilaksanakan oleh pihak rekanan.
Kepala Pasar Tradisional Ciranjang, Iman Rohiman, berharap kehadiran gedung Samsat di dekat kawasan Sanggar Merah Putih dan 300 kios tersebut mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung, sehingga berdampak positif terhadap aktivitas perdagangan.
Selain itu, kawasan wisata taman Embung juga diharapkan segera dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti lampu taman, pembongkaran pagar, serta penataan kawasan secara serius agar semakin menarik dikunjungi masyarakat.
Namun, berbagai terobosan yang dilakukan pengelola pasar dinilai belum cukup tanpa dukungan nyata dari pemerintah. Diperlukan perhatian serius dan langkah konkret pemerintah daerah maupun pusat untuk menghidupkan kembali 300 kios tersebut.
Menyikapi hal tersebut pihak pemerintah diharapkan tidak hanya melihat sepinya kios sebagai persoalan pengelola pasar, tetapi sebagai peluang strategis untuk menggerakkan roda perekonomian UMKM di Kabupaten Cianjur, khususnya di wilayah Ciranjang.
Dukungan pemerintah dapat berupa kebijakan revitalisasi pasar, insentif bagi pedagang yang bersedia mengisi kios, pelatihan kewirausahaan, pendampingan digitalisasi pemasaran, hingga promosi bersama agar Pasar Tradisional Ciranjang kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan sinergi antara pengelola pasar, pedagang, dan pemerintah, ratusan kios yang selama ini sepi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan pendapatan para pelaku UMKM.
Iman Rohiman meyakini, apabila seluruh rencana dan pembenahan tersebut terealisasi dengan baik serta mendapat dukungan penuh dari pemerintah, kawasan Pasar Tradisional Ciranjang berpeluang kembali hidup, pengunjung semakin ramai, dan ratusan kios yang selama ini sepi dapat kembali dimanfaatkan para pedagang untuk menggerakkan roda perekonomian.
“Kini, harapan menghidupkan kembali 300 kios Pasar Tradisional Ciranjang menjadi pekerjaan besar yang menanti realisasi dan sudah saatnya pemerintah hadir untuk memastikan UMKM di dalamnya bangkit dan sejahtera,”harap Iman.








