Berawal dari Swadaya, Berbuah Kolaborasi: Jejak Kolaborasi Hijau ke-69 di Kaki Gunung Papandayan. (Foto: Rian Sagita).
Garut | Berangkat dari semangat swadaya dan kepedulian terhadap alam, Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut kembali menggelar aksi ke-69 di Blok Jengkot 3, kaki Gunung Papandayan, Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Senin (27/4/2026).
Berbeda dari kegiatan berbasis proyek, gerakan ini tumbuh dari inisiatif mandiri para pegiat lingkungan yang secara konsisten melakukan upaya perbaikan ekosistem. Dari langkah kecil yang dilakukan secara gotong royong, Kolaborasi Hijau justru menemukan kekuatan baru ketika dipertemukan dengan pihak-pihak yang memiliki visi dan prinsip serupa.
Kegiatan yang dilaksanakan di lahan eks PMDK PTPN 1 Regional 2 Kebun Cisaruni ini menjadi ruang temu antara Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut dengan para petani penggarap serta tim Jaga Leuweung dari Desa Margamulya dan Cikandang. Pertemuan ini bukan sekadar kolaborasi teknis, melainkan penyatuan nilai, tentang pentingnya menjaga alam secara berkelanjutan.
Mengusung tema “Melanjutkan jejak kebaikan, dari satu titik menjadi gerakan yang mengakar,” aksi ini menegaskan bahwa pemulihan ekosistem tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan melalui proses panjang yang konsisten dan berkelanjutan.
Salah satu petani penggarap, Kang Bagja, menilai pendekatan yang dilakukan Kolaborasi Hijau sejalan dengan harapan masyarakat. Ia menekankan bahwa keberlanjutan menjadi kunci utama keberhasilan penghijauan.
“Yang kami butuhkan bukan hanya penanaman, tapi kesinambungan. Kalau berhenti di awal, semua usaha jadi sia-sia. Di sini kami melihat keseriusan itu,” ungkapnya.
Apresiasi juga datang dari tim Jaga Leuweung yang selama ini berperan menjaga kawasan hutan. Kang Ujang bersama rekan-rekannya menyambut baik pola kerja yang tidak hanya fokus pada aksi tanam, tetapi juga pada pemeliharaan dan pengawalan pertumbuhan tanaman melalui jadwal rutin yang terstruktur.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni, menegaskan bahwa gerakan ini sejak awal dibangun tanpa ketergantungan, melainkan dari kesadaran kolektif untuk merawat alam.
“Kami memulai ini secara swadaya. Namun dalam perjalanan, kami dipertemukan dengan para kolaborator yang memiliki semangat dan prinsip yang sama. Di situlah kekuatan gerakan ini tumbuh, bukan karena besar di awal, tetapi karena konsisten dan sejalan,” jelasnya.
Menurutnya, perbaikan ekosistem tidak cukup hanya dengan sumber daya, tetapi harus dilandasi nilai, komitmen, dan keberlanjutan. Kolaborasi yang terbangun pun bukan sekadar kerja bersama, melainkan ikatan tanggung jawab untuk menjaga alam dalam jangka panjang.
Aksi ke-69 ini menjadi bukti bahwa gerakan berbasis swadaya mampu berkembang menjadi gerakan kolektif yang kuat, ketika dipertemukan dengan pihak-pihak yang satu visi. Dari kaki Gunung Papandayan, langkah-langkah kecil itu terus tumbuh, mengakar, dan memberi harapan bagi pemulihan ekosistem yang lebih luas.












