Bukan Sekadar Datang, BEM PTNU Se-Nusantara Bukti Nyata. (Foto : Rians).
Jombang, metropuncak.com | Di tengah gelombang manusia yang memadati Muktamar NU ke-35, ada satu suara yang tak terdengar di panggung utama, namun terasa hangat di sudut-sudut lelah para peserta. Suara itu bukan dari mimbar, melainkan dari secangkir kopi panas, sepiring nasi, dan hamparan tikar istirahat.
Di saat sebagian besar datang untuk berdebat gagasan atau menyaksikan siapa yang akan memimpin masa depan, Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Se-Nusantara memilih jalan yang jarang dilalui: datang untuk melayani.
Mereka mendirikan Posko Khidmah sebuah oase di lautan hiruk-pikuk muktamar. Di posko itu, para muktamirin tak perlu merogoh kocek. Makanan, minuman, dan tempat istirahat tersedia gratis. Bukan sekadar logistik, ini adalah pernyataan filosofis: khidmah itu untuk semua, tanpa tanda tanya.
“Kami Bukan Sekadar Penonton Sejarah”
Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi, menegaskan bahwa kehadiran mereka adalah bentuk keberpihakan yang konkret.
“Mahasiswa memang identik dengan demo, kritik, dan diskusi panas. Tapi ada satu hal yang tak boleh pupus: tradisi membantu. Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa NU bisa menjadi pengabdi, bukan hanya pengkritik,” ujarnya.
Baginya, posko ini adalah wajah lain dari gerakan mahasiswa: tangan yang siap membantu, bukan hanya mulut yang siap berdebat.
Muktamar Itu Panas, Tapi Silaturahmi Itu Dingin
BEM PTNU menyadari bahwa setelah berjam-jam mengikuti sidang dan forum, yang paling dibutuhkan seorang muktamirin bukanlah pidato tambahan, melainkan tempat duduk yang nyaman dan teman bicara yang hangat.
Karena itu, posko khidmah didesain bukan sekadar tenda darurat, melainkan ruang publik untuk bersilaturahmi. Di sanalah obrolan santai tentang nasib umat, masa depan pesantren, hingga candaan ringan mengalir, menemani secangkir teh hangat.
“Di situlah NU sebenarnya tumbuh. Bukan dari keputusan formal semata, tapi dari kebersamaan, ngopi bareng, dan saling menguatkan,” kata Achmad.
Dari Kampus untuk NU, Dari NU untuk Indonesia
Lebih dari sekadar aksi sosial, posko ini adalah pesan strategis. BEM PTNU ingin menegaskan bahwa mahasiswa NU adalah agen masa depan yang tak hanya mewarisi simbol, tapi juga nilai.
“Generasi muda tak boleh hanya jadi pewaris seragam. Kita harus jadi pewaris semangat. Tantangan ke depan terlalu berat kalau kita cuma pintar berdebat, tapi tak kompeten dan tak punya kepedulian,” tegasnya.
Digitalisasi, perubahan sosial, hingga dinamika geopolitik itu semua menuntut mahasiswa NU yang cakap, profesional, dan berhati rakyat.
“Ini Rumah Kita Semua”
Dengan senyum, Achmad mengajak seluruh muktamirin untuk singgah di posko mereka.
“Jangan sungkan. Ini bukan punya kami. Ini punya kita semua. Kami hanya mengelola amanah. Silakan istirahat, makan, dan berbagi cerita. Karena sebesar apa pun muktamar, tanpa persaudaraan, ia hanyalah gedung kosong.”
Muktamar ke-35 ini pada akhirnya bukan hanya tentang siapa terpilih atau keputusan apa yang dihasilkan. Ia juga tentang bagaimana kita menjaga api kebersamaan.
Dan di tengah riuhnya panggung politik dan perdebatan ide, BEM PTNU Se-Nusantara mengingatkan kita semua dengan satu cara sederhana. Hadir, membantu, dan memberi manfaat. Itulah khidmah yang sesungguhnya.








