Warga Geger, Ada Penghuni di Bawah Jembatan Cibodas. (Foto : Sam Apip).
Cianjur, metropuncak.com | Warga Kampung Cibodas, Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, digegerkan oleh keberadaan seorang pria yang tinggal di bawah Jembatan Kali Cibodas sejak dua bulan lalu. Jembatan tersebut menjadi batas wilayah Kecamatan Ciranjang dengan Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur.
Pria penghuni jembatan itu mengaku memiliki banyak nama. Ia kadang dipanggil Si Jabrik, Dian, Ulen, dan sejumlah nama lainnya. Ia nekat mendirikan gubuk berukuran 2 x 1,5 meter dengan alas karung dan bilik, serta atap dari plastik besar dan bekas baliho.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Si Jabrik mencari barang bekas plastik. Setelah terkumpul, barang tersebut dijual kepada tengkulak atau pengepul barang bekas yang menggunakan gerobak.
Salah seorang tokoh pemuda Kampung Cibodas, Suga Sunarya, mengatakan bahwa pria berinisial Jabrig tersebut telah membuat gubuk dari bahan plastik bekas di bawah Jembatan Cibodas selama kurang lebih dua bulan.
Warga pun merasa khawatir, terutama saat musim hujan. Ketika air sungai surut, gubuk itu memang masih terlihat aman. Namun, jika hujan turun dan banjir datang, gubuk tersebut dipastikan akan terendam. Warga juga khawatir jika banjir datang tengah malam, gubuk itu bisa terseret arus.
Warga sudah beberapa kali melarang pria tersebut membangun gubuk di bawah jembatan karena rawan banjir. Namun, ia tetap bertahan. Karena itu, warga berharap pihak terkait segera mengevakuasi pria tersebut agar tidak lagi tidur di bawah jembatan.
“Warga sudah berupaya melarangnya, tetapi dia tetap bertahan. Kami berharap pihak terkait segera mengevakuasi dia supaya tidak tidur di bawah jembatan,” ujar Suga Sunarya.
Sementara itu, saat ditanya awak media, pria penghuni Jembatan Cibodas itu mengaku memiliki banyak nama. Ada yang memanggilnya Si Jabrig, Dian, Ulen, dan nama lainnya.
Ia mengatakan, untuk makan, ia menjual barang bekas yang sudah terkumpul. Ia juga mengaku tidak mau pindah karena merasa betah tinggal di lokasi tersebut. Menurutnya, tempat itu dekat dengan air, suhunya dingin, dan ia tidak takut kebanjiran.
“Nama saya banyak, Pak. Ada yang menyebut Si Jabrig, Dian, Ulen, dan lainnya. Saya tidak mau pindah, enak di sini dekat air juga dingin. Kalau banjir biarin, supaya bisa mancing,” ucapnya.
Saat diajak berbicara, pria tersebut terkadang menjawab nyambung, tetapi kadang juga melantur.














