Pengrajin Joran Pancing di Cianjur Keluhkan Lonjakan Harga Bahan Baku. (Foto : Sam Apip).
Cianjur | Pengrajin joran pancing di Kampung Pasirgombong RT 01/04, Desa Mekarwangi, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengeluhkan meroketnya harga bahan baku produksi. Kondisi ini membuat mereka kesulitan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan.
Kenaikan harga bahan baku utama seperti fiber, kimia cair, plastik, dan komponen lainnya diduga terjadi akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta perputaran ekonomi yang kurang stabil.
Salah seorang pengrajin joran pancing, Pendi Supendi, menjelaskan bahwa proses pembuatan joran dilakukan secara manual dari nol hingga siap pakai. Proses tersebut membutuhkan ketelitian yang tinggi dan memakan waktu yang cukup lama.
“Produksi joran itu dimulai dari bahan fiber berbentuk tali, lalu diproses hingga menjadi joran utuh, kemudian diberi aksesori sampai siap pakai. Prosesnya cukup rumit dan lama,” ujar Pendi.
Setelah selesai diproduksi, joran-joran tersebut dipasarkan melalui dua metode, yaitu secara daring (online) maupun luring (offline). Pemasarannya bahkan telah menjangkau berbagai kota dan kabupaten di Indonesia, hingga menembus pasar luar negeri.
Meski demikian, Pendi mengaku bisnis ini sedang kurang menguntungkan akibat melonjaknya harga modal. Namun, ia tetap bersyukur karena roda produksinya belum terhenti.
“Sekarang sulit mengambil untung (hese diala batina). Biarpun harga bahan baku naik, kami tetap bersyukur karena masih bisa berproduksi, membayar gaji karyawan, dan membayar cicilan bank setiap bulan. Semoga ke depannya harga bahan baku bisa kembali stabil,” tutur Pendi.
Merespons kondisi tersebut, Kepala Desa Mekarwangi, Cecep Surahman, menyampaikan bahwa wilayahnya memang memiliki banyak pelaku UMKM. Mulai dari produsen makanan dan minuman ringan, pengrajin joran pancing, hingga pelaku usaha konveksi pakaian. Menurutnya, seluruh pelaku usaha tersebut saat ini masih bertahan di tengah impitan harga modal.
Cecep menilai, bertahannya para pelaku UMKM ini didorong oleh harapan besar bahwa situasi ekonomi akan segera membaik dalam waktu dekat.
“Pada dasarnya mereka tetap bertahan bukan karena masih mendapat untung besar, melainkan karena memiliki harapan bahwa harga bahan baku bisa segera normal kembali,” pungkas Cecep.








