Muktamar Usai, Dendam Tak Perlu Diwariskan: BEM PTNU Serukan Sikap Negarawan untuk NU yang Lebih Besar. (Foto: Ist).
Kuala Lumpur, metropuncak.com | Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang, telah usai. Kompetisi berakhir, keputusan telah diambil, dan kini saatnya seluruh warga Nahdliyin menunjukkan kedewasaan berdemokrasi serta ketangguhan dalam menyikapi perbedaan.
Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi, mengajak seluruh Nahdliyin menerima hasil muktamar dengan bangga dan mengedepankan sikap negarawan.
Ia mengingatkan agar setelah palu muktamar diketuk, pertarungan tidak berpindah ke medsos, ruang publik, atau percakapan antarsesama Nahdliyin. Muktamar bukan ajang melahirkan musuh baru, melainkan mekanisme organisasi untuk menentukan kepemimpinan dan arah perjuangan NU.
“Siapa pun yang menang wajib merangkul, siapa pun yang berbeda pilihan harus mampu menerima, dan siapa pun yang punya kritik harus menyampaikannya dengan martabat,” tegasnya.
“Jangan karena kalah lalu merasa NU salah arah. Jangan karena menang lalu merasa paling berhak menentukan siapa yang paling NU. NU jauh lebih besar dari kepentingan kontestasi sesaat.”
BEM PTNU menilai, mempertahankan polarisasi pasca-muktamar hanya akan menguras energi dan menjauhkan NU dari agenda besarnya. NU tidak boleh menjadi korban ego pihak yang tak rela dengan hasil kontestasi.
Perbedaan pilihan adalah hal lumrah. Namun menjadikannya alasan untuk mencaci, merendahkan, menuduh, atau membangun narasi permusuhan adalah persoalan lain terlebih jika yang dihina adalah para ulama.
NU memiliki tradisi keilmuan, pesantren, tawadhu, tabayun, dan adab. Karena itu, jangan mengaku membela NU jika caranya justru merusak persaudaraan sesama Nahdliyin.
Kritik tetap penting, bahkan kepemimpinan NU harus dikawal agar sesuai mandat organisasi dan kebutuhan umat. Tapi kritik harus jadi instrumen perbaikan, bukan senjata pelampiasan kekecewaan politik.
Beda pilihan boleh, beda pandangan boleh, kritik wajib ketika diperlukan. Namun memusuhi sesama Nahdliyin tak boleh jadi budaya baru di NU.
Presidium Nasional BEM PTNU juga mengingatkan generasi muda NU agar tak terseret fanatisme personal. “Jangan wariskan budaya ‘siapa kawan dan siapa lawan’. Wariskan tradisi ‘apa gagasannya dan apa manfaatnya bagi umat’.”
Sebab tantangan NU ke depan jauh lebih besar dari sekadar siapa menang dalam forum. Pendidikan pesantren, ekonomi umat, profesionalisasi organisasi, ruang bagi kader muda, dan kehadiran NU dalam persoalan kebangsaan harus diperkuat.
Energi Nahdliyin harus dikembalikan pada khidmah, bukan konflik.
“Kami ajak seluruh Nahdliyin menutup buku kontestasi dan membuka lembaran khidmah. Terima hasil muktamar dengan bangga, hormati keputusan organisasi, kawal dengan kritis, tapi jangan kehilangan adab dan persaudaraan.”
BEM PTNU Se-Nusantara menegaskan, NU bukan milik kubu pemenang atau yang kalah. NU adalah rumah besar seluruh Nahdliyin.
Maka setelah Muktamar ke-35, saatnya berhenti menghitung siapa menang dan kalah. Yang harus dihitung adalah berapa banyak persoalan umat yang bisa diselesaikan. Yang diperebutkan bukan lagi kursi, tapi kontribusi. Yang dibesarkan bukan ego kelompok, tapi NU.
Muktamar sudah selesai. Jangan wariskan dendam, jangan pelihara kubu-kubuan, jangan rusak persaudaraan hanya karena beda pilihan.
Kini waktunya seluruh Nahdliyin berdiri bersama: menerima dengan bangga, mengawal dengan kritis, dan berkhidmah dengan sikap negarawan.









