Mantan Ketua Karang Taruna Kini Pimpin Program Edukasi Pertanian untuk Pemuda Cianjur dan Jawa Barat. (Foto: Ist).
Cianjur | Mantan Ketua Karang Taruna Kabupaten Cianjur, yang kini dipercaya menjadi Direktur Agro Taruna Tani Provinsi Jawa Barat, menggalakkan program pemberdayaan pemuda di sektor pertanian dan perkebunan. Program ini bertujuan mengajak generasi muda, khususnya di wilayah Cianjur dan Jawa Barat, untuk aktif membangun ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan tidur.
“Kita sedang dalam fase bonus demografi. Saya mengajak anak muda untuk mengambil peran dalam ketahanan pangan, karena negara kita sedang fokus pada swasembada pangan,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).
Fokus pada Lahan Tidak Produktif
Program ini berfokus pada pendayagunaan lahan tidur di berbagai desa dengan berkolaborasi bersama pemerintah desa setempat.Hingga saat ini, telah dibuka lahan percontohan seluas hampir 15 hektar di Kabupaten Cianjur dan Bandung Barat.
Di lokasi tersebut, pemuda terlibat langsung dalam kegiatan perkebunan agro-eduwisata yang menanam berbagai komoditas, seperti cabai (keriting, ori 212, dan rawit), bawang merah, buncis, serta timun. Beberapa di antaranya telah mengalami masa panen dengan hasil yang menggembirakan.
“Alhamdulillah, anak-anak muda yang terlibat meski tidak berlatar akademik pertanian, dapat berkontribusi dan merasakan manfaat ekonomi langsung. Di Sukanagara saja sudah ada sekitar 20 pemuda yang aktif,” jelasnya.
Tekan Urbanisasi dengan Pemberdayaan Pemuda
Salah satu tujuan besar program ini adalah menekan angka urbanisasi dengan menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha di sektor pertanian daerah.
“Urbanisasi bisa ditekan jika pemberdayaan berjalan, pemuda dilibatkan, dan diberikan kepercayaan,” tegasnya.
Program T1P4K: Tanam 1 Kali, Panen 4 Kali
Dalam perkembangan terbaru, melalui sinergi dengan PT. Thara Indonesia, diluncurkan Program T1P4K (Program Pertanian Tanam 1 Kali Panen 4 Kali). Program ini memperkenalkan varietas dan model tanam baru di mana satu kali penanaman padi dapat menghasilkan hingga empat kali panen.
“Uji coba di Soreang menunjukkan potensi hasil hingga 35 ton per hektar. Dalam waktu dekat, kami akan survei dan melibatkan 10 pemuda Cianjur untuk pendampingan petani,” ungkapnya.
Program ini menawarkan dua skema kerja sama:
1. Sewa Lahan: Masyarakat menyewakan lahan dan tetap diberdayakan sebagai tenaga kerja dengan upah harian.
2. Kerja Sama Bagi Hasil: Setelah dipotong biaya produksi (HPP), hasil panen dibagi dua antara pemilik lahan dan pengelola.
Semua permodalan dalam program ini ditanggung oleh pengelola.
Ajakan kepada Petani dan Pemuda
Dalam pesannya,dia mengajak para petani dan pemuda untuk tidak “cengeng” atau gengsi menjadi petani.
“Petani harus bangkit. Saya sendiri tidak punya basic akademik pertanian, tapi dengan keyakinan dan kerja keras, kita bisa belajar. Yang penting jangan ikut-ikut musim tanam, tapi atur strategi agar panen saat terjadi kelangkaan, sehingga harga lebih baik,” tuturnya.
Dukungan dan Rencana Ke Depan
Program ini telah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kemendes dan KMP Taskin. Pemerintah daerah juga diharapkan dapat terus mendukung inisiatif ini.
“Kami husnuzdan, pemerintah selalu mendukung. Hingga kini kegiatan kami berjalan lancar. Ke depan, fokus awal di Sukanagara dan Kadupandak, siap diperluas ke wilayah lain yang potensial di Jawa Barat seperti Majalengka, Garut, Cirebon, dan Karawang,” pungkasnya.
Program ini diharapkan tidak hanya menyokong ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, mengurangi urbanisasi, dan membangun kebanggaan generasi muda terhadap profesi di sektor pertanian dan perkebunan.














