Ikbal Alrozi (wartawan/kanan), diduga diusir Satpam KCD Pendidikan Wilayah VI Jabar. (Foto : Sam Apip).
Cianjur, metropuncakmcom | Dua orang awak media asal Cianjur, Ikbal Alrozi dari Media Online Ruang Pojok dan Robi dari Media Radar Cianjur, mengalami insiden kurang menyenangkan saat menjalankan tugas liputan di Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah VI Jawa Barat, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur. Keduanya diduga diusir oleh petugas keamanan (satpam) setempat.
Peristiwa bermula ketika kedua wartawan meminta izin untuk meliput jalannya rapat di dalam ruangan. Namun, permohonan mereka langsung ditolak dan mereka diminta untuk keluar ruangan.
Setelah berada di luar, salah seorang staf DPRD Provinsi Jawa Barat, mempersilakan mereka menunggu di ruang lobi dan menikmati hidangan yang telah tersedia.
Namun, baru saja duduk dan hendak mencicipi makanan, seorang satpam mendatangi mereka dan meminta agar tidak berada di dalam ruang lobi. Kedua wartawan pun akhirnya memilih keluar dari area tersebut.
Menurut Ikbal Alrozi, mereka datang ke kantor tersebut memang untuk bertugas. Sebelum mengambil gambar, ia mengaku sudah meminta izin terlebih dahulu, tetapi langsung dilarang dan diminta menunggu di luar.
“Kami paham aturan, mungkin rapat itu bersifat tertutup atau rahasia. Karena itu, kami langsung keluar. Tapi lucunya, setelah di lobi dan baru mau mencicipi makanan, kami dilarang lagi berada di dalam ruangan. Akhirnya kami keluar lagi,” ujar Ikbal.
Ia juga menirukan perkataan satpam yang memintanya keluar dengan kalimat, “Pak punten (maaf), di luar ngantosanana (nantinya di luar),” tirunya.
Menanggapi kejadian tersebut, Kepala KCD Pendidikan Wilayah VI Jabar, Nonong Winarni, menyampaikan permohonan maaf. Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah tindakan pengusiran, melainkan kemungkinan hanya kesalahpahaman (miskomunikasi) antara kedua belah pihak.
“Pelaksanaan rapat besar di KCD Pendidikan Wilayah VI ini merupakan yang pertama kalinya. Mungkin satpam belum bisa membedakan mana wartawan dan mana bukan, sehingga menjalankan tugasnya dengan ekstra ketat. Bahasa yang digunakan pun cukup santun. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini,” ucap Nonong meminta maaf.













