Ketua APAC sekaligus Ketua Aliansi Masyarakat Cianjur, Galih Widyaswara. (Foto: Ist).
Cianjur | Sebuah pernyataan kontroversial dilontarkan Aliansi Pemuda Aktivis Cianjur (APAC). Mereka meminta sang Bupati untuk tidak berangan-angan “segera meninggal” sebelum seluruh hak warga korban gempa 21 November 2022 silam terpenuhi.
Ketua APAC sekaligus Ketua Aliansi Masyarakat Cianjur, Galih Widyaswara, menyampaikan kritik pedasnya di hadapan awak media pada Minggu (3/5/2026).
“Setiap jalan hidup yang kita pilih baik jadi aktivis maupun jadi bupati pasti ada dinamikanya. Jangan hanya karena sedang ‘lieur’ (pusing) lalu merajuk bercita-cita segera mati. Sebagai Bupati Cianjur, masih ada PR besar, merespon kebutuhan korban gempa yang sebagiannya belum terpenuhi,” ujar Galih.
Menurut Galih, dalam rentang waktu hampir 4 tahun pascagempa, masyarakat korban masih membutuhkan proses pemulihan trauma psikologis dan pemulihan ekonomi. Yang tak kalah penting, pemenuhan hak atas hunian layak masih menyisakan sejumlah warga yang belum menerima.
“Dalam pandangan APAC, sejak dilantik hingga kini, kepemimpinan Bupati Wahyu dan Wakil Ramzi sangat minim perhatian kepada korban gempa 2022,” tegasnya.
Lebih lanjut, Galih mengungkapkan bahwa sekitar 65% korban gempa masih berjuang bertahan dari himpitan hidup. Sektor ekonomi mereka hancur dan harus mulai dari nol. Trauma kehilangan harta dan anggota keluarga masih membekas dalam benak mereka.
“Bupati Cianjur jangan egois hanya bercita-cita cepat mati biar masuk surga, sementara rakyatnya terabaikan. Allah SWT, Pemilik Surga, apakah ridho dimasuki pemimpin seperti itu?,” ucap Galih.
Galih memperingatkan, jika pemerintahan Wahyu-Ramzi masih terus terkesan abai terhadap hak-hak korban gempa terutama pemulihan psikologis dan penguatan ekonomi keluarga maka APAC, Aliansi Masyarakat Cianjur, dan warga korban akan menggelar aksi keprihatinan bertajuk “Pangeling” dalam waktu dekat.
Sebagaimana diketahui, sepanjang tahun 2022 Kabupaten Cianjur diguncang gempa bumi hingga 236 kali, dengan kekuatan setara magnitudo 5,6 SR pada kejadian utama 21 November pukul 13.21 WIB silam.
Korban meninggal 318 jiwa, Luka-luka 7.729 orang (595 luka berat, 7.134 luka ringan). Sebagian besar korban adalah anak-anak, karena kejadian berlangsung saat jam sekolah dengan 0usat gempa berada di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.














