Aksi Kolaborasi Hijau ke-98, Tetap Siram Tanaman di Tengah Terik, Semangat Tak Pernah Padam. (Foto : Rians).
Garut, metropuncak.com | Terik matahari dan tanah yang merekah bukanlah halangan bagi Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut. Justru di saat kemarau panjang melanda, komitmen sejati para pegiat lingkungan sedang diuji. Bukan sekadar menanam, tetapi bertahan merawat hingga tanaman itu tumbuh kokoh.
Semangat itulah yang membara dalam Aksi Kolaborasi Hijau ke-98 pada Rabu (26/8/2026). Bertempat di dua lokasi strategis Blok Hutan Edukasi Kolaborasi Hijau di Kampung Ciarileu, Desa Girijaya, dan Blok Gunung Congkrang, Desa Mekarjaya, Cikajang aksi kali ini terasa begitu heroik.
Di kawasan Ciarileu, para relawan bergerak cepat dengan melakukan pemupukan dan penyiraman massal. Beruntung, lokasi ini dekat dengan sumber mata air, sehingga mesin pompa air dapat digunakan maksimal untuk memastikan setiap tanaman mendapatkan asupan yang cukup.
Namun, tantangan sesungguhnya menghadang di Blok Gunung Congkrang. Medan terjal dan jarak sumber air yang jauh menjadi musuh utama. Belum lagi keterbatasan selang yang membuat mesin pompa tak bisa dioperasikan. Tapi, bagi tim Kolaborasi Hijau, kata “menyerah” tidak ada dalam kamus mereka.
Dengan peralatan seadanya jeriken dan ember mereka bergotong royong mengangkut air dari sumber, menapaki jalan berbatu, berulang kali, hingga tetes-tetes terakhir jatuh ke pangkal tanaman yang mulai meranggas. Letih tampak jelas di raut wajah, tetapi senyum kepuasan terpancar saat setiap batang kembali mendapat kehidupan.
H. Jaeni, Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk tanggung jawab moral, bukan sekadar seremoni.
“Menanam itu mudah saat hujan turun. Tapi memastikan pohon itu tetap hidup saat kemarau datang itulah wujud cinta sejati pada alam. Mesin mati, selang pendek, kami tidak berhenti. Kalau harus pakai jeriken, kami angkat. Karena setiap pohon yang kami tanam adalah amanah yang harus kami jaga sampai akhir hayatnya,” ujar H. Jaeni penuh haru.
Menurutnya, Aksi ke-98 ini adalah pengingat bahwa gerakan hijau adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi.
“Kolaborasi Hijau bukan cuma gerakan menanam pohon, tapi gerakan membangun kesadaran. Dari tanam menjadi tumbuh, dari aksi menjadi tradisi. Gotong royong inilah yang harus terus kita kobarkan,” tambahnya.
Sependapat dengan itu, Lukman Nulhakim, Ketua Bidang Konservasi dan Lingkungan, menyebut masa kemarau seperti sekarang adalah fase paling krusial dalam rehabilitasi lahan.
“Kemarau adalah ujian sesungguhnya. Penyiraman bukan sekadar mengguyur tanah, tapi memberi kesempatan hidup bagi bibit-bibit yang kita tanam. Di Ciarileu kita dibantu mesin, di Congkrang kita bersatu dengan jeriken. Lelah, tapi ini bukti bahwa konservasi butuh pengorbanan dan kesabaran,” jelas Lukman.
Ia menambahkan bahwa pemeliharaan harus menyeluruh mulai dari penyiraman, pemupukan, hingga pengendalian gulma sebagai satu paket rehabilitasi yang utuh.
Apresiasi tinggi juga datang dari Yadi, Penyuluh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Wilayah V Garut. Ia menyaksikan langsung bagaimana kegigihan relawan menjadi contoh nyata kolaborasi yang efektif.
“Keberhasilan penanaman tidak berhenti saat bibit masuk tanah. Tanaman harus terus dipantau, apalagi di musim kemarau. Kolaborasi Hijau telah membuktikan bahwa saat sarana terbatas, semangat gotong royong dan daya cipta lah yang menjadi jawaban. Ini adalah teladan bagi kita semua,” puji Yadi.
Aksi ke-98 ini menjadi cermin nyata bahwa perjuangan lingkungan tidak selalu mulus. Di satu titik, air mengalir deras dari pompa; di titik lain, perjuangan diwarnai keringat yang bercucuran di tengah terik, dengan jeriken sebagai senjata utama.
Namun di balik semua keterbatasan itu, tersimpan semangat besar: kemarau boleh mengeringkan tanah, tetapi tak akan pernah mengeringkan semangat merawat kehidupan.
Setiap tetes air yang diangkut dari kejauhan adalah simbol kepedulian. Setiap langkah di tanah kering adalah wujud perjuangan. Dan setiap pohon yang bertahan hidup adalah investasi harapan bagi anak cucu kita kelak.
Dengan Aksi Kolaborasi Hijau ke-98, Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut kembali menegaskan.
Penghijauan bukanlah lomba siapa paling banyak menanam, tetapi siapa yang paling teguh merawat saat ujian datang.
Dari Tanam Menjadi Tumbuh.
Dari Aksi Menjadi Tradisi.
Kolaborasi Hijau, Menanam Harapan, Merawat Kehidupan.










