Aksi ke-101 Kolaborasi Hijau Garut: Pulihkan Gunung Cikuray Usai Kebakaran

Aksi ke-101 Kolaborasi Hijau Garut: Pulihkan Gunung Cikuray Usai Kebakaran. (Foto : Rians).

Garut, metropuncak.com | Api mungkin telah padam. Asap perlahan menghilang. Namun bagi hutan, persoalan belum selesai. Jejak kebakaran di kawasan Gunung Cikuray menyisakan pekerjaan panjang membersihkan kawasan terdampak, memastikan lokasi aman, memulihkan vegetasi, dan mengembalikan fungsi ekologis lahan yang terluka.

Pesan itulah yang dibawa Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut dalam Aksi ke-101, Sabtu, 12 September 2026. Tidak sekadar datang untuk menanam pohon, aksi ini diarahkan pada upaya penanganan pascakebakaran melalui sterilisasi kawasan, penataan lokasi, dan penanaman kembali bersama lintas sektor.

Bagi Kolaborasi Hijau, menanam setelah kebakaran bukan sekadar mengganti pohon yang hilang. Lebih dari itu, penanaman menjadi simbol bahwa kerusakan ekologis tidak boleh berhenti sebagai berita, foto, atau angka luasan lahan terbakar.

Hutan yang terbakar membutuhkan lebih dari sekadar simpati. Ia membutuhkan kehadiran, perawatan, dan kesediaan untuk kembali.

Aksi ke-101 ini menjadi kelanjutan dari perjalanan Kolaborasi Hijau yang selama hampir dua tahun konsisten bergerak dari penanaman, pemeliharaan, hingga edukasi lingkungan. Setelah mencapai Aksi ke-100, gerakan tersebut tidak memilih berhenti pada seremoni pencapaian, tetapi kembali turun ke lapangan menghadapi persoalan ekologis yang nyata.

Kebakaran hutan meninggalkan dampak yang jauh lebih panjang dibanding waktu yang dibutuhkan untuk memadamkan api. Ketika vegetasi hilang, tanah kehilangan pelindungnya. Ketika tutupan hutan berkurang, kemampuan kawasan menyimpan air dan menjaga keseimbangan ekosistem ikut terancam. Karena itu, penanganan pascakebakaran harus dipandang sebagai bagian penting dari konservasi.

KRPH Cikajang, Mamat, mengapresiasi keterlibatan masyarakat dan lintas sektor dalam proses pemulihan kawasan. Menurutnya, setelah api berhasil dipadamkan, pekerjaan justru memasuki tahap berikutnya.

“Setelah kebakaran, pekerjaan kita tidak berhenti pada pemadaman. Justru setelah api padam ada tanggung jawab besar untuk memulihkan kawasan. Sterilisasi lokasi, pemantauan, dan penanaman kembali menjadi bagian penting agar kawasan yang terdampak bisa perlahan pulih,” ujar Mamat.

Ia menegaskan bahwa menjaga hutan tidak dapat dibebankan hanya kepada satu institusi.

“Hutan bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Kepedulian masyarakat dan kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan untuk menjaga kawasan ini,” katanya.

Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam gerakan pemulihan. Sebab kawasan hutan tersebut dan masyarakat Desa Giriawas memiliki hubungan yang tidak terpisahkan.

Kepala Desa Giriawas, Deni Sunjani, menilai Aksi ke-101 Kolaborasi Hijau menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa pencegahan kebakaran harus dimulai jauh sebelum api muncul. Meskipun lokasi hutan yang terbakar bukan bagian dari wilayah Desa Giriawas, tanggung jawab sebagai masyarakat tetap terpanggil.

“Yang paling penting bukan hanya bagaimana kita menangani setelah terjadi kebakaran, tetapi bagaimana kita mencegah agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Edukasi kepada masyarakat dan kepedulian terhadap lingkungan harus terus dibangun,” ungkap Deni Sunjani.

Ia berharap gerakan tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan.

“Kami sangat mendukung gerakan seperti ini. Semoga apa yang dilakukan hari ini menjadi awal pemulihan kawasan secara berkelanjutan dan menggerakkan lebih banyak masyarakat untuk ikut menjaga alam,” ujarnya.

Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni, menegaskan bahwa Aksi ke-101 merupakan pengingat bahwa konservasi bukan pekerjaan sehari, sebulan, bahkan setahun.

“Bagi kami, setelah api padam bukan berarti perjuangan selesai. Justru di situlah tanggung jawab dimulai. Pohon yang ditanam harus dirawat, kawasan harus dipantau, dan masyarakat harus terus diajak memahami bahwa hutan adalah bagian dari kehidupan kita,” ungkapnya.

Menurutnya, Kolaborasi Hijau tidak ingin hadir hanya ketika sebuah kawasan menjadi sorotan akibat bencana.

“Kami ingin hadir sebelum, saat, dan setelah persoalan terjadi. Karena menjaga alam bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang mau terus kembali ketika yang lain mulai melupakan,” tegasnya.

Pada aksi perdana pascakebakaran, ditanam pohon-pohon pelindung seperti Beringin, Loa, Mahoni, dan Suren yang berfungsi menjaga tata air dan mencegah erosi. Kegiatan pemulihan lanjutan akan dilaksanakan masif pada musim penghujan mendatang.

Aksi ke-101 menjadi penanda bahwa perjalanan Kolaborasi Hijau memasuki babak baru: dari sekadar menanam menjadi memastikan apa yang ditanam tetap hidup; dari merespons kerusakan menjadi membangun kesadaran untuk mencegahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *