“Abah Murka!” Aliansi Mahasiswa & Rakyat Cianjur Tolak Karnaval MBSP: Korban Bencana Masih Terlantar, APBN Dihambur-hamburkan. (Foto : Dery Lesmana).
Cianjur | Rencana gelaran Karnaval Mahkota Binokasih Sanghyang Pake (MBSP) yang dijadwalkan berlangsung sore ini, Rabu (6/5/2026), mendapat penolakan keras dari Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Cianjur.
Sebabnya bukan tanpa alasan. Di tengah korban bencana pergerakan tanah di Cianjur Selatan yang masih terlantar dan kekurangan bantuan, pagelaran itu dinilai justru menghamburkan anggaran negara untuk pesta pora.
Ketua Koordinator Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Cianjur, Abah Suhe, dengan lantang menyampaikan kekecewaannya.
“Mahkota Binokasih itu simbol mahkota raja Sunda. Fungsinya untuk mengingatkan peran raja sebagai pelindung dan penebar kasih kepada rakyatnya. Bukan untuk pesta karnaval di saat rakyatnya jadi korban bencana dan masih terlantar,” tegas Abah Suhe kepada wartawan, Rabu (6/5/2026).
Abah Suhe juga mempertanyakan niat di balik karnaval tersebut. Apa yang dicari Gubernur Dedi dari karnaval ini? Kalau cari elektoral, KDM harus direhabilitasi mentalnya!.
“Di saat masyarakat banyak yang jatuh sengsara, anggaran negara malah dipakai pesta pora,” ujarnya dengan nada tinggi.
Ia menambahkan, sudah saatnya pemimpin meneladani makna sejati Mahkota Binokasih, bukan sekadar menjadikannya atraksi.
“Cukup mahkota binokasih jadi pegangan ajaran pemimpin Sunda, bukan jadi alat pesta menghamburkan anggaran negara di saat masyarakat terhimpit bencana dan ekonomi,” sambungnya.
Dalam pernyataannya yang menguat, Abah Suhe mencontohkan sosok Eyang Surya Kencana yang justru diwujudkan dalam bentuk kampus untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Di Cianjur ada Eyang Surya Kencana. Wujudnya kampus, bukan naik kuda kencana menghambur-hamburkan anggaran negara di saat rakyat sengsara,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, panitia penyelenggara maupun pihak Pemprov Jabar belum memberikan tanggapan resmi terkait penolakan tersebut.














