Demi Biayai Kuliah, Siti Rela Bangun Pukul 3 Pagi dan Kerja di Dapur MBG, “Saya Tak Ingin Membebani Ibu”

Demi Biayai Kuliah, Siti Rela Bangun Pukul 3 Pagi dan Kerja di Dapur MBG, “Saya Tak Ingin Membebani Ibu”. (Foto: Zenal Mustari).

Cianjur | Di usianya yang baru 20 tahun, Siti Nurasri sudah memikul tanggung jawab yang tak semua anak muda berani ambil. Mahasiswi Universitas Suryakancana (UNSUR) Cianjur ini rela membagi tubuhnya antara lelah bekerja dan tanggung jawab kuliah, semua demi satu hal, yaitu membiayai pendidikannya sendiri tanpa membebani ibunya yang ekonominya pas-pasan.

Setiap hari, saat sebagian besar mahasiswa lain masih terlelap dalam hangatnya selimut, Siti sudah bangun pukul 3 pagi. Di saat udara masih dingin menyelimuti, ia melangkah menuju Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukajadi, Campaka, Cianjur.

Di dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG) itulah ia mengolah bahan makanan, menyiapkan ribuan porsi, dan memastikan gizi anak-anak terpenuhi. Semua dilakukan dengan senyum dan semangat yang tak pernah surut.

“Kadang mata masih berat, apalagi kalau malam sebelumnya belajar sampai larut. Tapi saya selalu ingat, saya kuliah bukan buat bebani ibu,” ujar Siti lirih, Jumat (13/3/2026). Ada getar haru di ujung kalimatnya.

Siti adalah anak keempat dari lima bersaudara. Tahun 2023 lalu, sang ayah telah berpulang. Sejak itu, beban ekonomi keluarga sepenuhnya bertumpu pada pundak ibu yang pendapatannya jauh dari kata cukup. Di tengah keterbatasan itu, Siti justru bertekad untuk tetap melanjutkan pendidikan tinggi, meski harus bekerja keras.

“Saya enggak tega lihat ibu. Beliau sudah tua, masih mikirin biaya kuliah saya. Saya harus bisa bantu, minimal buat diri saya sendiri,” kenangnya dengan mata berkaca.

Keputusannya bekerja di dapur MBG sejak 19 Agustus 2025 menjadi titik balik perjuangannya. Gaji yang ia terima setiap bulan ia bagi sebagian untuk UKT, sebagian untuk kebutuhan kuliah, dan sisanya ia berikan untuk ibu di rumah. Tak ada kata lelah, karena ia tahu, setiap rupiah yang ia hasilkan adalah wujud cintanya pada keluarga.

Yang membuat kisah Siti semakin mengharukan, ia mengambil kelas sore agar bisa bekerja di pagi hari. Setelah berjam-jam berdiri di dapur, ia harus membersihkan diri dan segera berangkat kuliah. Saking padatnya, waktu istirahat hanya terhitung satu dua jam di antara pekerjaan dan buku kuliah.

“Kebetulan saya kuliah sore. Jadi sepulang kerja, saya langsung pulang, istirahat sebentar, lalu ke kampus. Pulang kuliah kadang lanjut belajar atau bantu ibu,” tuturnya.

Namun di balik semua itu, ada kebanggaan yang tak ternilai. Siti merasa bersyukur karena tak hanya mendapatkan penghasilan, tetapi juga pengalaman, teman baru, bahkan jaminan BPJS Ketenagakerjaan dari tempatnya bekerja. Hal-hal kecil yang baginya sangat besar artinya.

“Saya dapat teman baru, dapat suasana kekeluargaan. Saya berharap program ini terus berjalan, karena buat saya ini bukan sekadar kerja, tapi berkah,” ungkapnya penuh syukur.

Sementara itu, Rizki Muhammad Iqbal, Kepala SPPG Campaka, tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada anak muda satu ini. Menurutnya, Siti adalah contoh nyata bahwa mahasiswa bisa mandiri tanpa harus mengemis belas kasihan.

“Anak ini luar biasa. Semangatnya tinggi, disiplin, dan tidak pernah sekalipun mengeluh. Padahal beban kerjanya berat, kuliahnya juga jalan. Ini inspirasi buat kita semua,” ujar Rizki.

Kisah Siti Nurasri adalah pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap senyum mahasiswi yang bekerja keras, ada perjuangan panjang melawan kantuk, lelah, dan keterbatasan. Ada hati yang memilih kuat agar ibunya tak perlu menangis memikirkan uang kuliah.

Disini Siti membuktikan, ketika niat baik dan kerja keras bertemu, Tuhan selalu punya cara untuk membantu hamba-Nya yang tak pernah menyerah.

“Saya hanya ingin ibu saya bangga, dan saya bisa lulus tanpa pernah menyusahkan beliau,” tutup Siti seorang mahasiswi, pekerja dapur MBG sekaligus pejuang keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *