YEU dan Pemerintah Desa Tunggulsari Fasilitasi Pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana

YEU dan Pemerintah Desa Tunggulsari Fasilitasi Pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana. (Foto : Ist).

Pati, metropuncak.com | YAKKUM Emergency Unit (YEU) bersama Pemerintah Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, memfasilitasi pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Tunggulsari pada 16 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini menjadi langkah bersama untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan membangun ketangguhan desa dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai penanggulangan bencana di Indonesia dan Kabupaten Pati yang disampaikan oleh Hermain, staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati. Dalam paparannya, Hermain menjelaskan bahwa Kabupaten Pati memiliki beragam potensi ancaman bencana, termasuk di wilayah Desa Tunggulsari. Menurutnya, keberadaan relawan serta struktur atau organisasi penanggulangan bencana di tingkat desa dapat membantu masyarakat melakukan upaya penanggulangan bencana secara lebih terkoordinasi dan efektif.

Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai peran dan tugas relawan penanggulangan bencana serta pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana Desa. Fajrin Husni Hamzah, fasilitator dari YEU, menyampaikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi relawan penanggulangan bencana.

“Semua orang bisa menjadi relawan penanggulangan bencana. Hal tersebut harus didasari kepedulian, kemauan, dan kemampuan. Kemampuan dapat diperoleh melalui proses belajar dan berlatih. Keterlibatan kelompok rentan juga menjadi perhatian. Penyandang disabilitas, lanjut usia, perempuan, serta kelompok lainnya dapat terlibat dalam upaya pengurangan risiko bencana sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya,” jelas Fajrin.

Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, menyampaikan apresiasi kepada YEU atas kerja sama dan dukungan yang diberikan hingga terlaksananya pembentukan FPRB di Desa Tunggulsari.

“Kami mengapresiasi YEU yang telah bekerja sama dan memfasilitasi pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana di Desa Tunggulsari. Kami berharap forum ini dapat memperkuat ketangguhan masyarakat dan meminimalkan risiko bencana di desa,” ujar Setyo.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 40 perwakilan masyarakat, dengan komposisi laki-laki dan perempuan yang relatif berimbang serta berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari pemuda, dewasa, hingga lansia. Pembentukan FPRB Desa Tunggulsari juga memperhatikan aspek Gender, Kesetaraan, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI). Perempuan dan kelompok rentan dilibatkan secara aktif, baik dalam struktur kepengurusan maupun dalam proses pengambilan keputusan forum.

Anita, salah satu peserta kegiatan di Desa Tunggulsari, berharap keterlibatan perempuan dalam isu kebencanaan dapat terus diperkuat.

“Semoga perempuan jadi lebih edukatif, tangguh dalam segala aspek kehidupan, dan tambah wawasan. Semoga perempuan dalam kebencanaan lebih terlibat karena yang paling terdampak itu perempuan, baik dari segi mental, ekonomi, maupun lainnya,” ujar Anita.

Sementara itu, Ahmad Damai yang terpilih sebagai Ketua FPRB Desa Tunggulsari berharap forum yang telah dibentuk dapat menjalankan perannya secara konsisten dan bertanggung jawab.

“Semoga berjalan sesuai dengan rencana terkait penanggulangan bencana. Untuk ke depannya, kiranya setiap kegiatannya amanah dan bertanggung jawab,” kata Ahmad Damai.

Project Manager YEU Pati, Eli Sunarso, menjelaskan bahwa pembentukan organisasi penanggulangan bencana tidak hanya dilakukan di Desa Tunggulsari. Kegiatan serupa juga dilakukan di sejumlah desa dampingan YEU lainnya, yaitu Desa Keboromo, Tegalombo, dan Banyutowo.

“Di Tunggulsari disepakati bentuknya sebagai Forum Pengurangan Risiko Bencana. Harapannya, forum ini menjadi wadah untuk berkumpul, berkoordinasi, merumuskan, dan menjadi penggerak aksi-aksi pengurangan risiko bencana, baik di desa maupun di luar desa,” ujar Eli.

Selain menyepakati nama, bentuk organisasi, dan kepengurusan, kegiatan juga membahas tugas dan fungsi forum dalam seluruh tahapan penanggulangan bencana, mulai dari pra-bencana, saat bencana, hingga pascabencana. Peserta turut mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kapasitas serta sarana pendukung yang diperlukan untuk memperkuat kinerja FPRB Desa Tunggulsari.

Pembentukan FPRB ini diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun mekanisme penanggulangan bencana yang lebih terorganisasi dan inklusif di tingkat desa. Dengan keterlibatan masyarakat secara luas dan memperhatikan prinsip GEDSI, Desa Tunggulsari diharapkan semakin siap dalam mengenali risiko, mengurangi dampak, serta merespons bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *