YEU dan BPBD Pati Latih Warga Tegalombo Siaga Bencana Inklusif

YEU dan BPBD Pati Latih Warga Tegalombo Siaga Bencana Inklusif. (Foto : Ist).

Pati, metropuncak.com | Sebanyak 40 perwakilan warga Desa Tegalombo, Kabupaten Pati, mengikuti Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Inklusi pada 9–10 Oktober 2026. Kegiatan ini digagas oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU) dengan dukungan pendanaan dari Anglican Overseas Aid (AOA), dan menghadirkan narasumber dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati.

Kepala Desa Tegalombo, Sumijah, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan ini. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat kerja sama antara pemerintah desa dan YEU yang akan berlangsung hingga tahun 2028.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada teori. Masyarakat harus diajak praktik agar benar-benar siap saat bencana datang,” ujar Sumijah dalam sambutannya, Rabu (9/9/2026).

Project Manager YEU Pati, Eli Sunarso, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian program di empat desa dampingan YEU di Kabupaten Pati, yakni Tegalombo, Keboromo, Banyutowo, dan Tunggulsari.

Fokus utama pelatihan adalah mengenali ancaman bencana, melakukan pendataan, mengelola pos pengungsian dan logistik, serta memahami adaptasi terhadap perubahan iklim.

“Kami menekankan aspek inklusi dalam penanggulangan bencana. Kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas harus menjadi prioritas dan dilibatkan dalam setiap tahapan,” tegas Eli.

Sementara itu, Sekretaris BPBD Kabupaten Pati, Eko Budi Santosa, memaparkan potensi ancaman bencana di wilayah Pati serta sistem penanggulangan bencana di Indonesia. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.

Materi diperdalam oleh fasilitator YEU, Bopa Noverina, yang mengajak peserta mengenali tiga elemen penting: ancaman, kapasitas, dan kerentanan. “Mengurangi risiko bencana dilakukan dengan memperkuat kapasitas dan mengurangi kerentanan masyarakat,” jelas Bopa.

Salah satu peserta, Erdiana, yang mewakili kelompok muda desa setempat, mengaku sangat terbantu dengan pelatihan ini. “Pengetahuan saya bertambah, terutama soal pemetaan risiko. Saya berharap relawan kebencanaan di desa kami makin banyak dan melibatkan semua kalangan,” ungkapnya.

Pelatihan PRB Inklusi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat Tegalombo dan desa-desa dampingan lainnya untuk membangun ketangguhan yang inklusif dalam menghadapi bencana dan dampak perubahan iklim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *