Tinggal di Gubuk Reyot, Seorang Lansia di Haurwangi, Menanti Uluran Tangan Dermawan

Tinggal di Gubuk Reyot, Seorang Lansia di Haurwangi, Menanti Uluran Tangan Dermawan. (Foto: Sam Apip).

Cianjur | Di balik dinginnya pegunungan dan gelapnya malam yang menyelimuti Kampung Cimeta, RT 01/10 Desa Sukatani, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, ada sebuah gubuk reyot yang hampir tak layak disebut rumah. Di sanalah Nenek Titi (72) menghabiskan hari-hari tuanya seorang diri, ditemani rasa sakit dan dinding yang setiap saat mengancam ambruk.

Pintu rumahnya miring, atapnya bolong-bolong, dan bilah-bilah bambu penyusun dinding sudah lapuk dimakan usia. Rumah itu terakhir kali dibangun pada tahun 2000, saat suami tercintanya, almarhum Suwita, masih hidup. Namun sejak Suwita berpulang pada 2004, tak sekalipun perbaikan pernah menyentuh rumah tersebut.

“Dulu dibangun sama suami, setelah beliau pergi, ya beginilah adanya,” ujar Nenek Titi dengan suara lirih yang nyaris tertelan hembusan angin, Selasa (7/4/2026).

Sepeninggal suaminya, Nenek Titi sempat tinggal bersama anaknya selama 10 tahun. Namun sejak 2014, ketika usianya kian renta dan tubuhnya mulai sering sakit, ia memilih kembali ke rumah tuanya rumah yang kini nyaris ambruk itu dan tinggal sendirian. Selama kurang lebih lima bulan terakhir, anak cikalnya, Maesaroh (40), bergantian menjenguk dan merawatnya.

“Tapi Maesaroh juga punya keluarga sendiri, Bu. Saya nggak tega terus-terusan merepotkannya,” tutur nenek itu sambil sesekali mengusap sudut matanya.

Yang lebih memilukan, di tengah berbagai program bantuan sosial yang digulirkan pemerintah, nyaris tak ada satu pun yang menyentuh Nenek Titi.

Satu-satunya bantuan yang pernah ia rasakan adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebanyak tiga kali saat pandemi Covid-19 dulu. Sekarang, program Makan Bergizi Gratis (MBG) pun tak pernah singgah di rumah reyotnya.

“Dulu dapat BLT pas Covid, alhamdulillah. Sekarang ya sudah, nggak ada apa-apa,” ucapnya dengan nada yang begitu sendu.

Kondisi rumahnya yang berada jauh dari pemukiman warga lainnya, sehingga membuatnya semakin terisolasi. Jalan setapak yang licin dan terjal seolah menjadi tembok tak kasat mata yang memisahkan Nenek Titi dari uluran tangan.

Sementara itu, upaya menemui Kepala Desa Sukatani, Heri, untuk memohon bantuan pun kandas. Saat didatangi ke kantor desa, aparat desa Andika dan Babay hanya berkata, “Maaf, Pak Kades sedang keluar, tidak ada di kantor.”

Namun ada sedikit harapan dari pihak kecamatan. Camat Haurwangi, Yadi Supriyadi, saat ditemui di ruang kerjanya mengakui bahwa belum pernah menerima laporan resmi mengenai rumah tidak layak huni milik Nenek Titi.

“Maaf, kami belum menerima laporan. Insyaallah dalam waktu dekat kami akan koordinasi dengan Desa Sukatani dan akan melakukan kunjungan ke Nenek Titi,” janjinya.

Tapi Nenek Titi tak bisa terus menunggu. Setiap hari ia memandang langit-langit rumahnya yang retak, berdoa semoga ada tangan-tangan baik yang sudi memperhatikan. Di usianya yang ke-72, ia hanya ingin tidur dengan tenang tanpa rasa takut rumahnya runtuh menimpa.

Siapa pun yang tersentuh hatinya, uluran tangan sekecil apa pun baik berupa bahan bangunan, makanan, atau sekadar kunjungan akan sangat berarti bagi Nenek Titi. Mari kita buat senjanya menjadi lebih layak. Karena tidak ada yang pantas tinggal di rumah yang nyaris ambruk, apalagi di penghujung usianya.

Bantuan dapat disalurkan melalui perangkat Desa Sukatani atau langsung menghubungi aparat Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *