Ibu Siti Nurbaya dan Luka yang Dilemparkan Kepada Beliau.
Oleh : Lukman Jalu
Sebuah Refleksi Tentang Integritas, Kekuasaan, dan Upaya Membelokkan Arah Kesalahan
Aku mengenal beliau.
Bukan dari cerita, bukan dari potongan berita atau meja rapat yang penuh basa-basi. Tapi dari kedekatan manusiawi yang tak bisa dibantah oleh fitnah, tidak bisa dipatahkan oleh logika kebencian, dan tidak pernah goyah oleh tudingan yang dilemparkan dari balik tirai konspirasi.
Ibu Siti Nurbaya, bagi banyak orang mungkin hanya sosok birokrat. Tapi bagi kami yang pernah menyaksikan langsung kerja kerasnya, ia adalah contoh langka dari seorang teknokrat yang berdiri tegak dalam badai sistem.
Seorang perempuan kuat yang menolak menyerah pada rayuan proyek, intimidasi politik, atau jebakan uang. Ia bukan hanya menulis kebijakan, ia menjaga nilai. Ia tidak hanya menandatangani dokumen, tapi juga menimbang setiap dampaknya bagi generasi mendatang.
Itulah sebabnya ketika nama beliau tiba-tiba dikaitkan dengan kasus tambang Raja Ampat, sebuah kawasan suci ekologi dunia, hatiku tersentak. Bukan karena aku tak percaya ada kesalahan dalam sistem, tapi karena aku tahu betul, itu bukan Bu Siti Nurbaya yang ku percaya adalah, ada kepentingan besar yang ingin menjadikan beliau sebagai korban sebagai topeng untuk menutupi wajah asli dari kerakusan yang sesungguhnya.
Kita tahu, dalam birokrasi hari ini, banyak keputusan besar tak lahir dari tangan yang tampak. Izin tambang bisa saja diteken, tapi bukan berarti seluruh prosesnya diketahui dan disetujui secara sadar oleh sang Menteri.
Karena dalam sistem yang penuh tekanan, ada banyak keputusan yang diselipkan, disisipkan, dan disusupkan.
Ada kalimat-kalimat samar yang berbunyi, “Ini perintah atas,” atau, “Sudah dibahas di tingkat lintas,”.
Ada instruksi yang tidak pernah tertulis, tapi wajib dijalankan. Dan semua itu terjadi bukan karena lemah, tapi karena seorang menteri juga manusia yang berada di bawah tekanan konstitusi dan kekuasaan yang lebih tinggi darinya.
Di titik ini, publik perlu sadar: yang sedang terjadi bukanlah pengungkapan kebenaran, tapi pembelokan arah tuduhan.
Kasus Raja Ampat, dengan segala kerusakan yang ditimbulkan oleh tambang dan izin-izin hitam itu, adalah hasil dari kebijakan besar yang telah didorong oleh kekuatan yang jauh di atas seorang Menteri LHK. Tapi seperti dalam banyak kisah klasik kekuasaan, ketika badai datang dan pencitraan harus dijaga, maka dicari kambing hitam yang cukup bersih untuk dijatuhkan, agar sang penyembunyi kejahatan bisa tetap tampil suci.
Dan Bu Siti dijadikan perisai itu.
Lebih menyakitkan lagi, anaknya pun diseret. Padahal, tak ada satu bukti pun yang bisa mengaitkan dirinya pada transaksi, saham, atau pengaruh di perusahaan tambang manapun. Tapi karena namanya adalah Tohpati, anak dari Bu Siti Nurbaya, maka itu cukup untuk jadi umpan.
Mereka yang sebenarnya punya rekam jejak panjang dalam urusan tambang dan politik uang tak disebut.
Mereka yang duduk di kursi tinggi, memuluskan segala perizinan demi proyek ambisius bertabur investasi, tak disentuh.
Yang disorot justru seorang Ibu, yang selama satu dekade berdiri dengan teguh untuk menjaga hutan, merestorasi gambut, memulihkan mangrove, dan mendidik ratusan birokrat muda dengan etika lingkungan.
Ironi itu begitu tajam.
Betapa mudahnya bangsa ini lupa pada rekam dedikasi, dan betapa cepatnya kita terbakar oleh api sensasi.
Lalu dengan gegabah, kita menuduh yang sebenarnya sedang dijebak.
Kini, narasi ini harus dibalik.
Sudah saatnya publik bersuara bukan hanya untuk membela pribadi Siti Nurbaya, tapi untuk menolak cara-cara keji yang menjadikan orang baik sebagai tameng kejahatan sistemik.
Kasus ini bukan soal beliau semata.
Ini tentang bagaimana kekuasaan bekerja dalam gelap, dan menempatkan nama-nama bersih di garis tembak agar sang perancang utama bisa terus duduk nyaman di kursi pengendali.
Aku tahu betul siapa Bu Siti.
Dan aku tahu, Beliau tidak layak diperlakukan seperti ini.
Jika bangsa ini masih punya ingatan, jika kita masih punya nurani untuk membedakan mana korban dan mana perancang kebijakan jahat, maka jangan diam.
Berdirilah bersama kebenaran, meskipun ia tak populer. Dan hari ini, kebenaran itu bernama Ibu Siti Nurbaya yang sedang dilempari batu oleh tangan-tangan yang tak ingin kita melihat pelaku sesungguhnya.
Bukan beliau yang merusak Raja Ampat. Tapi kekuasaan yang memaksa untuk tunduk pada kalkulasi investasi dan pesta tambang.
Dan kini mereka ingin kita percaya bahwa yang bersih lah yang kotor.
Tapi tidak.
Tidak kali ini.
Saya berdiri untuk beliau.
Dan saya harap, kalian juga.














