PSIKOPAT POLITIK, MEREKA YANG MEMBAKAR RUMAH SENDIRI
Oleh: LuqmanJalu
Kalau ada yang lebih busuk daripada lawan politik di luar partai, itu adalah kawan separtai yang tega menjatuhkan rekannya sendiri dengan cara paling kotor. Bayar demonstran, pasang spanduk tuduhan, dorong isu ke media, lalu berharap elit partai terpancing dan menyingkirkan target dengan cap “kader kontroversial.”
Inilah wajah asli psikopat politik. Mereka tidak peduli partai jadi rusak, tidak peduli publik jijik melihat konflik internal, yang penting kursi rebutan jatuh ke pangkuannya. Ambisi pribadi ditaruh di atas kepentingan partai, sementara reputasi kolektif dibuang ke got.
Publik tidak akan membedakan siapa dalang dan siapa korban. Yang terlihat hanyalah partai yang hancur karena saling sikut dari dalam. Ironisnya, semua itu lahir bukan karena ide, bukan karena visi, tapi karena nafsu menguasai jabatan basah dan akses keuntungan.
Politik seperti ini tidak layak disebut strategi. Ini kriminal, kejahatan politik yang meracuni demokrasi dari dalam tubuh partai sendiri. Sekali dibiarkan, pola ini akan menular. Hari ini satu orang dijadikan kambing hitam, besok siapa pun bisa jadi sasaran berikutnya.
Kader yang jujur, populer, dan bekerja nyata justru dijegal dengan tuduhan murahan. Yang bangga berteriak di jalan bukan rakyat yang menuntut keadilan, melainkan massa bayaran yang dijadikan alat intrik. Dan yang paling berbahaya, ketika elite partai lengah, mereka ikut terseret permainan busuk ini, seolah-olah sedang menegakkan disiplin, padahal sedang dijadikan boneka oleh psikopat politik yang sedang tertawa puas di belakang layar.
Jika partai ingin tetap punya masa depan, mereka harus berani menamai perbuatan ini dengan benar, pengkhianatan, bukan disiplin. Karena psikopat politik tidak akan pernah puas sampai rumah yang ditempatinya sendiri terbakar habis.














