Oleh : KH. Ayi Mamduh Aktivis NU Cianjur
Tulisan ini terinspirasi karena kita menyelenggarakan salat Istisqa, pada hari Jumat, 17 September 2026, pada pukul 13.30 WIB. Seketika teringat dawuh Mama Syaikhuna (KH. Abdulqadir Rozy), dalam sebuah giat pangaosan, (entah di “Pangaosan” Ihyaul ihya, atau pangaosan routin malam Sabtu, Kitab Mukhtarul ahadits, di Masjid al-Barkah Bojongmeron, sekitar 30-an tahun yang lalu. Entahlah !!!
1. Narasi Kisah: Paceklik di Makkah dan Kedatangan Sang Wali Tersembunyi
Pada suatu tahun, Kota Makkah Al-Mukarramah dilanda kemarau yang sangat ekstrem. Tanaman mati, hewan ternak kelaparan, dan cadangan air di sumur-sumur mengering. Penduduk Makkah berada dalam kondisi kritis akibat cobaan paceklik tersebut.
Melihat situasi ini, para ulama dan penduduk kota sepakat untuk keluar melaksanakan Salat Istisqa. Abdullah bin al-Mubarak, yang saat itu sedang berada di Makkah, ikut bergabung dalam jamaah di dekat pintu Bani Syaibah di Masjidil Haram.
Masyarakat berkumpul dengan penuh harap, menangis, dan meratap. Imam memimpin salat dua rakaat dan menyampaikan khotbah, lalu semua orang mengangkat tangan tinggi-tinggi memohon belas kasihan Allah SWT.
Namun, setelah salat selesai, langit tetap terik, awan hitam tak kunjung datang, dan matahari justru terasa semakin membakar.
Di tengah keputusasaan massal itu, Abdullah bin al-Mubarak, memperhatikan seorang pria berkulit hitam, bertubuh kurus, berpakaian sangat sederhana, dan tampak seperti seorang budak jelata. Pria tersebut berjalan perlahan mencari tempat yang agak tersembunyi di samping Ibnul Mubarak agar tidak menarik perhatian orang banyak.
Budak tersebut kemudian bersujud dan mulai berbisik kepada Allah SWT dengan untaian kata yang menggetarkan.
2. Lafal Teks Doa Sang Budak
Abdullah bin al-Mubarak mendekatkan telinganya dan mendengar dengan jelas budak tersebut mengadu dan berdoa kepada Allah dengan kalimat yang sangat berani namun penuh ketundukan:
إِلَهِي، أَخْلَقَتِ الْوُجُوهَ عِنْدَكَ ذُنُوبٌ مُوبِقَةٌ، وَسَيِّئَاتٌ مُخْفِقَةٌ، وَقَدْ مَنَعْتَنَا سَيْبَ سَمَائِكَ لِتُؤَدِّبَ عِبَادَكَ، فَأَسْأَلُكَ يَا حَلِيمًا ذَا أَنَاةٍ، يَا مَنْ لَا يَعْرِفُ عِبَادُهُ مِنْهُ إِلَّا الْجَمِيلَ، أَنْ تَسْقِيَهُمُ السَّاعَةَ السَّاعَةَ!
“Wahai Tuhanku, dosa-dosa yang membinasakan dan keburukan-keburukan yang menggagalkan telah membuat wajah para hamba-Mu menjadi suram di hadapan-Mu. Engkau telah menahan curahan hujan dari langit-Mu demi mendidik hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyantun lagi tidak tergesa-gesa menghukum, wahai Dzat yang hamba-hamba-Nya tidak mengenal dari-Nya melainkan kebaikan semata, agar Engkau menurunkan hujan kepada mereka saat ini juga, saat ini juga!”.
3. Karamah: Hujan yang Langsung Turun
Demi Allah, Abdullah bin al-Mubarak, mengisahkan bahwa begitu budak tersebut selesai mengucapkan kalimat “السَّاعَةَ, السَّاعَةَ” (saat ini juga, saat ini juga) dan belum sempat ia mengangkat kepalanya dari sujud, langit Makkah yang tadinya bersih tanpa awan mendadak bergumpal hitam kelam mendung bergulung-gulung.
Tidak butuh waktu lama, hujan lebat langsung tercurah bagai ditumpahkan dari langit mengguyur seluruh Makkah. Air mengalir membasahi bumi yang tandus, dan seketika suasana duka berubah menjadi kegembiraan yang luar biasa bagi penduduk kota.
Setelah melihat doanya dikabulkan secara instan, budak hitam itu bangkit, bersyukur kepada Allah, lalu berjalan pergi meninggalkan tempat tanpa mau dikenal oleh siapa pun.
4. Akhir Kisah: Pencarian Ibnul Mubarak
Abdullah bin al-Mubarak yang menyadari bahwa budak ini adalah seorang Wali Mastur atau Wali Tersembunyi (kekasih Allah yang kedudukannya sangat tinggi), langsung membuntutinya secara diam-diam. Ia mengikuti budak itu hingga masuk ke rumah seorang makelar atau majikan penjualan budak.
Keesokan harinya, Ibnul Mubarak mendatangi rumah sang majikan untuk membeli budak tersebut. Sang majikan menawarkan budak-budak terbaik yang berbadan tegap dan rajin bekerja. Namun, Ibnul Mubarak menolaknya dan menunjuk ke arah budak hitam kurus yang sedang duduk menyendiri di pojok ruangan.
Majikan itu terkejut dan berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, budak ini tidak memiliki kekuatan untuk bekerja keras, ia tidak berguna bagimu.”
Ibnul Mubarak tetap bersikeras membelinya dengan harga wajar.
Setelah transaksi selesai dan mereka berjalan pulang, budak itu menoleh kepada Ibnul Mubarak dan bertanya dengan sopan, “Wahai tuanku, mengapa engkau membeliku? Aku tidak punya kekuatan untuk melayanimu seperti budak lainnya.”
Ibnul Mubarak menjawab, “Aku membelimu bukan untuk menjadikanku pelayan, melainkan aku ingin menjadi pelayanmu setelah aku menyaksikan apa yang terjadi kemarin di Masjidil Haram ketika engkau berdoa meminta hujan,”.
Mendengar rahasia spiritualnya di hadapan Allah telah terbongkar di dunia, budak tersebut gemetar. Wajahnya pucat, dan ia langsung menjatuhkan diri bersujud kepada Allah seraya berdoa lirih.
“Ya Allah, rahasia antara aku dan Engkau kini telah tersingkap. Maka ambillah nyawaku sekarang juga tanpa menundanya lagi.”.
Seketika itu juga, sang budak menghembuskan napas terakhirnya dalam keadaan bersujud. Abdullah bin al-Mubarak menangis sejadi-jadinya.
Ia mengurus jenazah sang wali Allah tersebut, mengafaninya dengan pakaian terbaik, dan memakamkannya dengan penuh penghormatan di Makkah.
Referensi Kitab :
1. Kitab Shifatus Shafwah, _Al-Imam Abu al-Faraj Ibnul Jauzi_(Wafat 597 H) | Jilid 2, Halaman 317 – 318 (Pada bab penyebutan orang-orang saleh dari kalangan budak hitam).
2. Kitab Hilyatul Auliya wa Thabaqatulf Ashfiya,_Al-Hafiz Abu Nu’aim al-Ashbahani_ (Wafat 430 H) | Jilid 8, Halaman 166 (Dalam biografi riwayat hidup Imam Abdullah bin al-Mubarak).
3. Kitab Al-Muntadzam fi Tarikh al-Muluk wal Umam, _Al-Imam Ibnul Jauzi_ Jilid 9, Halaman 45 (Keluaran penerbit Darul Kutubil Ilmiyyah).
4. Kitab Tarikh Dimasyq, _Al-Imam Ibnu Asakir,_ Wafat 571 H) | Jilid 32, Halaman 437 (Menjelaskan karamah para tabi’in dan kisah Ibnul Mubarak).
5. (https://www.google.com/search?q=abdullah+bin+al-mubarak&kgmid=/m/0gmcvbk)_Sudut Griyanugratama, H. 18/09/26, P. 02;43









