Keris Kembali Berwibawa: Dari Batu Cincin ke Pusaka Nusantara, Omzet Abah Bagas Tembus 60 Persen!. (Foto: Dery Lesmana).
Cianjur | Di era serba digital ini, siapa sangka pusaka leluhur justru bangkit dari tidur panjangnya. Keris, simbol budaya yang dulu hanya tersimpan di pojok ruangan, kini berubah menjadi primadona yang diburu lintas generasi. Fenomena ini bukan sekadar tren ini adalah kebangkitan identitas bangsa.
Dan di balik gemuruh kebangkitan itu, ada Abah Bagas. Dulu ia dikenal sebagai pedagang batu cincin. Kini, lapak kecilnya di samping pintu masuk Stasiun Kereta Api Ciranjang, Desa Ciranjang, Kecamatan Ciranjang, telah menjadi saksi bisu geliat cinta tanah air yang tak terbendung.
“Saya lihat sendiri, minat masyarakat terhadap keris luar biasa. Pemasaran bagus, sangat menjanjikan,” ujar Abah Bagas kepada wartawan, Senin (6/4/2026).
Tak main-main, pria ini kini menjelajahi pusat-pusat perkerisan hingga ke Surabaya, Solo, dan berbagai wilayah di Jawa Tengah untuk mendatangkan bilah-bilah berisi sejarah. Hasilnya? Keuntungan tembus 50 hingga 60 persen per transaksi. Sebuah peluang ekonomi yang menggiurkan di tengah gempuran produk modern.
Yang menarik, pembeli keris tak lagi sekadar kolektor tua. Mereka datang dari berbagai penjuru, Warungkondang, Cikondang, bahkan Bandung. Tak kurang dari 50 persen pembeli adalah pendatang dari luar Ciranjang. Ada pula yang menempuh perjalanan jauh dari Sumatra hanya untuk mendapatkan keris incaran.
Dan kabar baiknya, pembeli kini kritis dan berpengetahuan. Mereka tak sekadar melihat bentuk, melainkan menggali makna, filosofi, hingga bahan dasar keris.
“Banyak konsumen yang lihat dari segi besi, sepuh, dan nilai historisnya. Bahkan ada yang mencari keris tertentu yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya,” jelas Abah Bagas sambil membetulkan sebilah keris pusaka di lapaknya.
Bagi Abah Bagas, lonjakan minat ini bukan sekadar angka penjualan. Ini adalah pesan: masyarakat mulai sadar bahwa keris bukanlah benda mistis usang, melainkan warisan adiluhung yang layak dijaga.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan dan budaya aslinya. Dengan meningkatnya minat terhadap keris, kita ikut melestarikan pusaka asli Indonesia,” tuturnya penuh haru.
Di tengah arus modernisasi yang menggila, keris kini menjelma menjadi simbol perlawanan budaya yang lembut namun kuat. Ia kembali berwibawa. Ia kembali di hati masyarakat. Dan kisah Abah Bagas hanyalah satu dari sekian banyak bukti bahwa pusaka Nusantara tak akan pernah mati ia hanya menunggu waktu untuk bangkit kembali.








