Jaringan Intelektual Muda Cianjur Desak Penerapan Pedagogi Welas Asih di Sekolah. (Foto: Ist).
Cianjur | Menyusul tragedi bunuh diri seorang anak sekolah dasar (SD) baru-baru ini, Presidium Jaringan Intelektual Muda (JIM) Cianjur mendesak Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur untuk memastikan penerapan pendekatan pedagogi welas asih (compassionate pedagogy) dalam sistem pendidikan di daerah ini.
Presidium JIM Cianjur, Alief Irfan, menegaskan bahwa peristiwa tragis tersebut bukan sekadar masalah personal keluarga, melainkan sinyal bahaya sistemik bagi dunia pendidikan.
“Hal ini sinyal bahaya sistemik bagi dunia pendidikan kita, khususnya di Kabupaten Cianjur,” ujar Alief, Rabu (5/2/2026).
Fenomena ini, menurutnya, memunculkan pertanyaan mendasar. “Mengapa anak-anak yang seharusnya sedang berada di puncak fase bermain justru merasa hidup adalah beban yang tak tertahankan? Disdikpora Cianjur harus memastikan bahwa sekolah idealnya menjadi ruang aman (safe space),” tegasnya.
Alief mengkritisi realitas di banyak sekolah dasar yang dinilainya terjebak dalam standardisasi akademik yang kaku. Fokus berlebihan pada nilai dan kompetensi kognitif, menurutnya, sering mengabaikan kematangan emosional peserta didik.
Ia memaparkan beberapa akar masalah: pertama, kurikulum yang padat menyebabkan anak kehilangan waktu untuk eksplorasi diri. Kedua, krisis kesehatan mental dan literasi emosi, di mana pendidikan dinilai gagal mengajarkan resiliensi (ketangguhan). Ketiga, ketidakmampuan mengelola kegagalan, karena anak-anak sering tidak diajarkan cara memproses emosi negatif seperti kecewa, sedih, atau malu. Keempat, minimnya tenaga profesional, seperti Guru Bimbingan Konseling (BK) yang keberadaannya di tingkat SD masih sering dianggap sebagai pelengkap atau bahkan sosok yang menakutkan.
“Kita butuh revolusi paradigma dalam pendidikan,” seru Alief.
Sebagai solusi, JIM Cianjur mengusulkan beberapa langkah konkret:
1. Kurikulum Kesejahteraan (Well-being): Menjadikan kesehatan mental sebagai bagian inti kurikulum, bukan sekadar materi tambahan.
2. Kemitraan Orang Tua-Sekolah: Membangun komunikasi dua arah yang mendalam untuk mendeteksi perubahan perilaku anak sedini mungkin.
3. Hapus Stigma: Mengajarkan kepada anak bahwa meminta bantuan saat merasa sedih adalah bentuk keberanian, bukan kelemahan.
Desakan ini diajukan sebagai upaya mendesak untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun kesehatan mental dan kematangan emosional anak-anak di Cianjur.














