Jembatan Penghubung Tiga Desa di Cianjur Putus Diterjang Banjir

Jembatan Penghubung Tiga Desa di Cianjur Putus Diterjang Banjir. (Foto: Sam Apip)

Cianjur | Jembatan gantung yang menghubungkan Desa Pagermaneuh, Desa Karangtengah, dan Desa Rawagede di Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, putus diterjang banjir pada Selasa (11/10/25) sekitar pukul 16.30 WIB. Jembatan yang kerap disebut “Jembatan Merah” itu roboh setelah tergerus derasnya aliran banjir.

Akibatnya, akses transportasi dan komunikasi warga ketiga desa tersebut terputus. Puluhan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA, terisolasi dan tidak dapat mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Hal ini terjadi karena sebagian besar pelajar tersebut bersekolah di desa yang berbeda dengan tempat tinggal mereka.

Kepala Desa Pagermaneuh, Dodi Agusti Romdon, menjelaskan bahwa insiden ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan Kecamatan Tanggeung sejak pukul 13.00 WIB. Curah hujan yang lama dan deras itu menyebabkan Sungai Cibuni meluap dan memicu banjir bandang yang akhirnya menghanyutkan jembatan.

“Karena jembatan merah hanyut, aktivitas anak sekolah juga terputus. Mereka tidak bisa menyeberang untuk berangkat ke sekolah,” ucap Dodi.

Ia menambahkan, Jembatan Cibuni yang memiliki panjang sekitar 50 meter dan lebar 1,2 meter itu pernah mengalami kejadian serupa pada tahun 2022.

“Situasi sekarang lebih parah karena akses untuk anak sekolah, lalu lintas perekonomian, dan layanan kesehatan turut terputus. Warga Desa Karangtengah dan Rawagede yang bersekolah di wilayah Desa Pagermaneuh menjadi terdampak langsung,” imbuhnya.

Sementara itu, Riki Gunawan, salah seorang aktivis dan anggota RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Kecamatan Tanggeung, menyatakan bahwa bencana banjir tidak hanya terjadi di Tanggeung. Berdasarkan informasi dari jejaring RAPI, bencana alam juga melanda beberapa kecamatan lain di bagian selatan Cianjur.

“Seperti di Desa Pagermaneuh yang jembatannya putus dan bendungan irigasinya jebol. Di Kecamatan Cidaun, banjir menyebabkan beberapa rumah hanyut dan puluhan lainnya terendam,” kata Riki.

Menurut hasil pantauan mereka, bencana banjir dan longsor terjadi hampir di setiap wilayah kecamatan di Kabupaten Cianjur bagian selatan, dengan skala yang bervariasi, mulai dari yang besar hingga yang relatif kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *