Jembatan Bambu Usang di Sukabungah: Ancaman Nyata bagi Pendidikan dan Keselamatan Warga
Cianjur | Puluhan tahun lamanya, siswa-siswa SD di Desa Sukabungah, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, terpaksa mempertaruhkan nyawa demi mengeyam pendidikan.
Mereka harus menyeberangi jembatan bambu yang sudah lapuk dan rusak parah, tanpa adanya pagar pengaman, setiap hari untuk sampai ke sekolah.
Jembatan yang menghubungkan Desa Campakamulya dan Sukabungah di Kampung Legok Huni ini telah menjadi satu-satunya akses bagi warga, termasuk para pelajar.
Namun, kondisinya sangat memprihatinkan beberapa bagian bambu sudah patah, lapuk, dan rapuh, sehingga sangat berbahaya bagi siapa pun yang melintas.
Kepala Desa Sukabungah, Asep Juanda, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali mengajukan permohonan perbaikan jembatan kepada pemerintah daerah. Namun, hingga kini, belum ada respons konkret.
“Kami khawatir, terutama saat musim hujan tiba. Air sungai bisa meluap kapan saja dan menghanyutkan jembatan ini. Selama ini, kami dan warga terpaksa bergotong-royong memperbaiki seadanya,” ujar Asep saat ditemui wartawan, Jumat (16/5/2025).
“Kami berharap pemerintah segera turun tangan sebelum terjadi musibah yang merenggut nyawa.” tambahnya.
Ajril (12), salah seorang pelajar yang setiap hari melintasi jembatan itu, mengaku selalu diliputi ketakutan. “Saya takut jembatannya ambruk. Teman-teman juga sering gemetaran saat menyeberang. Kami hanya ingin pergi sekolah dengan aman,” ujarnya polos.
Warga setempat berharap, pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap kondisi ini. Pembangunan jembatan yang layak bukan hanya soal akses transportasi, tetapi juga menyangkut keselamatan dan masa depan anak-anak Desa Sukabungah.
Sampai kapan warga harus bertahan dengan jembatan reyot ini? Pertanyaan itu masih menggantung, sementara ancaman bahaya mengintai setiap detik.***














