Foto: Ilustrasi.
Bayangkan kamu punya GPS internal, bukan buatan Google Maps atau Waze, tapi desain langsung dari Yang Maha Kuasa. GPS ini punya fitur canggih, yakni sensor dosa dan alarm kebajikan.
Fitur kerjanya unik, kalau kamu melakukan sesuatu yang baik hati menjadi luas, dada terasa lapang, jiwa pun akan tenang. Kamu merasa seperti mobil yang melaju di jalan tol mulus, tanpa hambatan. Inilah yang dalam istilah Nabi disebut al-birru kebajikan.
Tapi kalau kamu mulai melakukan hal yang melenceng? Alarm langsung berbunyi akan ada yang mengganjal menimbulkan perasaan idak nyaman. Ibarat mobil tiba-tiba masuk jalan berlubang. Itulah dosa sesuatu yang mengganggu ketenangan jiwamu.
Coba cek diri sendiri, pernah tidak kamu hampir melakukan sesuatu, lalu tiba-tiba ada rasa aneh di perut? Atau ketika sudah terlanjur melakukannya, kamu berharap tidak ada yang tahu? Nah, itu tandanya GPS-mu masih aktif! Kamu masih termasuk orang-orang shalih yang hatinya hidup.
Tapi hati-hati, ada tipe orang yang GPS-nya sudah mati. Mereka bisa berbohong di depan umum tanpa merasa bersalah. Bahkan bangga menceritakan kemaksiatan. Jiwa mereka sudah tidak punya sinyal. Inilah orang-orang fasik.
Nabi Muhammad ﷺ memberi resep jitu untuk mengecek kualitas iman: “Mintalah fatwa kepada hatimu.” Artinya, sebelum bertanya ke mana-mana, tanya dulu ke dalam dirimu sendiri.
Masalahnya, kita sering kebalik. Begitu ada masalah, langsung tanya ke teman, tanya ke medsos, tanya ke forum. Padahal yang paling tahu kondisi hatimu, ya hanya hatimu sendiri yang tahu! Orang lain bisa saja memberi fatwa, tapi mereka tidak merasakan getaran di dadamu.
Nabi bahkan menegaskan, “Walaupun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka terus memberi fatwa.” Maksudnya, meski seribu orang bilang ini halal, tapi hatimu tetap bimbang, maka itu pertanda ada yang salah.
Di era informasi seperti sekarang, kita dibanjiri fatwa instan. Artikel bertebaran, video ceramah di mana-mana, konten agama viral tiap hari. Tapi jangan sampai semua suara dari luar mematikan suara dari dalam.
Karena kadang orang yang memberi fatwa itu sendiri tidak paham konteksmu. Mereka hanya bicara teori. Tapi hatimu bicara realita. Jadi, jadikan GPS hatimu sebagai hakim pertama.
Kesimpulannya, rawatlah sensor hatimu. Jangan biarkan dosa-dosa kecil membuatnya tumpul. Karena saat sensor itu rusak, kita akan tersesat tanpa sadar. Dan saat itu terjadi, tidak ada aplikasi duniawi yang bisa menolong.














