Ditengah Guratan Penertiban, Hati Emas Kepala Desa Selajambe Beri Harapan Baru bagi Keluarga Tak Berdaya

Kepala Desa Salajambe Kecamatan Sukaluyu Agus Junaedi memberi harapan baru bagi keluarga tak berdaya di tengah guratan penertiban lapak. (Foto : Istimewa)

Cianjur, metropuncak.com | Raut cemas dan kebingungan menyelimuti wajah Eti Nurjanah saat rumah singgahnya di tepi Jalan Raya Cianjur–Bandung rata dengan tanah.

Ditengah gempuran penertiban ratusan bangunan liar yang berlangsung Minggu (2/8/2026), ia dan keluarganya nyaris kehilangan segalanya bukan hanya atap, tapi juga arah tujuan.

Namun, di balik hiruk-pikuk operasi penertiban dari Kecamatan Karangtengah hingga Ciranjang itu, muncullah secercah cahaya kemanusiaan yang justru menjadi pusat perhatian. Sosok Kepala Desa Selajambe, Kecamatan Sukaluyu Agus Junaedi, hadir bukan sebagai pejabat yang menonton, melainkan sebagai sesama anak bangsa yang merasakan derita.

Padahal, keluarga Eti bukanlah warganya. Bangunan yang mereka huni pun berada di luar wilayah Desa Selajambe. Tapi bagi Agus, bantuan tidak pernah mengenal batas administratif.

Tanpa menunggu lama, ia bergerak cepat. Bukan sekadar kata-kata simpati, Agus langsung menyewa sebuah rumah kontrakan untuk keluarga tersebut dengan biaya yang ia lunasi sendiri untuk jangka waktu tiga bulan ke depan.

“Kasihan, kami hanya ingin membantu agar mereka tak tidur di sembarang tempat. Apalagi jika mereka terpaksa membuat gubuk lagi di pinggir jalan, itu akan lebih menyedihkan. Untuk sementara, kami sediakan tempat layak agar mereka bisa bernapas lega, sembari mencari jalan keluar untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Agus dengan nada tulus, saat ditemui di lokasi, Senin siang.

Aksi spontan yang sarat nilai kemanusiaan ini pun menuai pujian dari lintas kalangan. Tokoh masyarakat setempat, Kang Iwan Yusuf, menuturkan bahwa langkah Agus Junaedi menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kepekaan terhadap penderitaan sesama.

“Pak Agus menunjukkan bahwa jabatan bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan untuk menebar manfaat. Beliau mengajarkan kita bahwa kebaikan tidak harus menunggu perintah, dan tidak pula memilih-milih penerima. Ini adalah teladan yang patut kita contoh bersama,” puji Iwan penuh haru.

Kisah ini menjadi pengingat indah di tengah gurat kebijakan yang keras bahwa di tangan pemimpin yang berhati mulia, musibah bisa berubah menjadi pintu rezeki, dan ketakutan bisa sirna oleh uluran tangan yang tulus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *