Diduga Kurang Efektif, SRG Haurwangi Bukan untuk Petani Lokal Malah Jadi Tempat Transit Kopi & Alat Sawah. (Foto : Sam Apip).
Cianjur| Sistem Resi Gudang (SRG) yang berlokasi di belakang Kantor Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diduga kurang efektif dalam menjalankan fungsinya. Padahal, tujuan utama SRG adalah membantu petani menyimpan komoditas seperti gabah, beras, dan jagung agar mereka bisa menunda penjualan demi mendapatkan harga terbaik sekaligus memperoleh pembiayaan bank.
Namun kenyataannya, gudang tersebut kerap digunakan hanya sebagai tempat transit barang di luar item yang telah ditentukan dalam aturan. Bahkan, tidak jarang dipakai untuk menyimpan traktor dan alat bajak sawah. Yang terbaru, gudang itu dijadikan lokasi transit biji kopi kering asal luar Jawa yang rencananya akan diekspor ke luar negeri.
Salah seorang pengamat pembangunan Kecamatan Haurwangi, Kang Mahram, menyayangkan kondisi ini. Menurutnya, keberadaan SRG Haurwangi sangat jauh dari tujuan awal pemerintah.
“Seharusnya SRG ini digunakan untuk menyimpan komoditas hasil petani lokal dari Kecamatan Haurwangi, Bojongpicung, Ciranjang, bahkan petani dari kecamatan lain di Kabupaten Cianjur,” ujarnya.
Namun nyatanya, SRG Haurwangi diduga lebih banyak menjadi ladang ekonomi para pengurusnya. Ia mencontohkan, puluhan ton biji kopi kering milik salah satu perusahaan asal Lampung sempat singgah di gudang tersebut sebelum diekspor ke luar negeri.
“Tidak ada satu pun petani padi atau jagung setempat yang menyimpan hasil panennya di SRG Haurwangi. Penyebabnya jelas: tidak pernah ada sosialisasi dari pihak SRG kepada petani lokal,” tegas Kang Mahram.
Saat dikonfirmasi, Kepala SRG Haurwangi, H. Nana, membenarkan bahwa biji kopi kering yang berada di gudangnya merupakan milik seorang perempuan dari Bengkulu dan hanya transit sementara sebelum diekspor.
Menurut Nana, penyimpanan kopi tersebut sah karena termasuk dalam 17 item komoditas yang diperbolehkan. Ia juga menegaskan bahwa tidak hanya petani, pemilik CV pun boleh menyimpan komoditasnya di SRG.
Soal sosialisasi kepada petani lokal, Nana mengklaim sudah sering dilakukan. Namun metode yang dipakai terbilang pasif: para petani yang datang berkunjung ke SRG akan langsung dijelaskan. “Jangan mendetail juga gampang,” ujarnya singkat.
Saat tengah asyik memberikan penjelasan, tiba-tiba H. Nana pamit karena ada tamu yang harus segera ditemui. “Aduh mohon maaf kang, ada tamu dari jauh yang harus diselesaikan sekarang. Insyaallah lain waktu saja kita ketemu lagi,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan lebih lanjut dari pihak terkait mengenai efektivitas SRG Haurwangi ke depan.













