Tugu Ayam Pelung dari knalpot brong di Cianjur di resmikan Kapolda Jabar Irjen Pol. Dr. Pipit Rismanto. (Foto :
Cianjur, metropuncak.com | Pemandangan tak biasa tersaji di Simpang LLAJ/Taman Kota Ramayana Cianjur, Rabu (16/9/2026).
Di tengah kunjungan kerja Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Dr. Pipit Rismanto bersama unsur Forkopimda Kabupaten Cianjur, sebuah monumen unik diresmikan, yakni Tugu Knalpot Ayam Pelung.
Berbeda dari tugu pada umumnya, monumen ini dirangkai dari 3.000 knalpot brong hasil razia jajaran Polres Cianjur. Knalpot yang selama ini identik dengan kebisingan itu disusun hingga membentuk patung Ayam Pelung ayam khas Cianjur yang dikenal karena kokoknya panjang dan merdu.

Peresmian ditandai dengan penandatanganan monumen oleh Kapolda Jabar, disaksikan langsung unsur Forkopimda. Hadir pula Kapolres Cianjur, Wakil Bupati Cianjur Abi Ramzi, Ketua DPRD Cianjur, Ketua BNN Cianjur, Kepala BPN Cianjur, Kasdim 0608/Cianjur, Kepala Kemenag, Ketua MUI, POMDAM, Kasipidum Kejaksaan Negeri Cianjur, serta Kasi Trantib Kecamatan Cianjur.
Dalam sambutannya, Kapolda Jabar menyebut Tugu Knalpot Ayam Pelung bukan sekadar monumen fisik, melainkan cerminan fenomena sosial yang perlu menjadi perhatian bersama.
“Monumen ini merupakan bagian dari perilaku menyimpang yang dilakukan adik-adik remaja kita untuk mendapatkan pengakuan kehebatannya,” ujar Kapolda.
Ia menyoroti bahwa mayoritas pengguna knalpot brong adalah remaja yang mencari perhatian karena merasa kurang mendapatkan kasih sayang dari orangtua.
“Karena generasi kita kurang memperhatikan, sehingga mencari perhatian dengan membesarkan suara motor,” tambahnya.
Menurut Kapolda, perilaku remaja pengguna knalpot brong bisa ditekan, tetapi bukan tugas kepolisian semata.
“Perilaku mereka menjadi tanggung jawab kita peran orangtua, guru di sekolah, pemerintah, dan lingkungan,” tegasnya.
Penindakan knalpot brong di Jawa Barat menjadi perhatian serius di bawah kepemimpinan Kapolda Pipit Rismanto. Pada Agustus 2026, Polda Jabar mencatat telah mengamankan sekitar 9.128 knalpot nonstandar melalui penindakan represif maupun persuasif.
Pendekatan yang digunakan bersifat humanis dan edukatif sebagian masyarakat bahkan menyerahkan knalpot brong miliknya secara sukarela untuk diganti dengan knalpot standar.
Di Cianjur sendiri, 3.000 knalpot yang kini menjadi bagian dari Tugu Ayam Pelung merupakan hasil razia bertahap. Alih-alih dimusnahkan begitu saja, knalpot-knalpot tersebut dipilih untuk dialihfungsikan menjadi monumen bernilai edukasi.
Pemilihan Ayam Pelung dinilai tepat secara kultural. Ayam Pelung adalah ayam khas Cianjur yang telah lama menjadi kebanggaan masyarakat, dikenal karena suaranya yang merdu dan berkualitas.
Paradoksal memang knalpot brong yang identik dengan kebisingan yang mengganggu disusun menjadi patung ayam yang justru dihargai karena suaranya. Namun, di situlah pesan edukatifnya.
Tugu ini diharapkan menjadi pengingat visual bahwa suara yang keluar dari kendaraan bermotor seharusnya tidak menjadi sumber keresahan, melainkan seperti Ayam Pelung sesuatu yang memiliki nilai dan tempatnya sendiri.
Kunjungan Kapolda Jabar ke Cianjur merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja ke wilayah-wilayah di Jawa Barat. Sebelumnya, pada 14 September 2026, Kapolda juga melakukan kunjungan serupa ke Sukabumi untuk memperkuat sinergi dan kekompakan Forkopimda dalam menjaga keamanan serta kondusivitas wilayah.
Kehadiran Kapolda bersama seluruh unsur Forkopimda Cianjur dalam peresmian tugu ini menjadi simbol bahwa penanganan persoalan sosial termasuk fenomena knalpot brong memerlukan kolaborasi lintas sektor.
Tidak hanya kepolisian, tetapi juga pemerintah daerah, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan tentu saja keluarga.
Dengan diresmikannya Tugu Knalpot Ayam Pelung, Cianjur memiliki monumen yang bukan hanya menjadi penanda kota, tetapi juga cermin dari sebuah perjalanan panjang penertiban demi kenyamanan bersama. Sebuah tugu yang dibangun dari ribuan kesalahan, dengan harapan tidak ada lagi yang mengulanginya.












