Bukan Sekadar Tanam Pohon: Dari Gunung Congkrang, Tamparan Halus untuk Gerakan Lingkungan yang Seremonial. (Foto: Rian Sagita).
Garut | Di saat banyak gerakan penghijauan berhenti pada seremoni tanam lalu dilupakan, Kolaborasi Hijau ke-70 di Blok Gunung Congkrang, Sabtu (2/5/2026), justru menunjukkan hal sebaliknya: merawat jauh lebih sulit daripada sekadar menanam.
Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut memilih jalur yang tidak populer: tanpa panggung, tanpa selebrasi berlebihan. Agenda mereka sederhana, bahkan kerap dianggap sepele, yaitu memasang label tanaman dan melakukan inventarisasi. Namun, di situlah letak persoalannya. Hal yang sering diabaikan justru menentukan hidup atau matinya sebuah gerakan lingkungan.
Fakta di lapangan berbicara jelas. Banyak program penanaman pohon berakhir sebagai angka laporan, bukan sebagai ekosistem yang benar-benar tumbuh. Pohon ditanam, difoto, lalu ditinggalkan. Tidak ada data, tidak ada pemantauan, apalagi tanggung jawab jangka panjang.
Di tengah realitas itu, langkah Kolaborasi Hijau menjadi semacam “tamparan halus”.
Sekretaris Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Cepi Gantina, menegaskan bahwa menjaga alam bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari tanggung jawab kebangsaan.
“Bela negara tidak selalu bicara soal senjata atau batas wilayah. Ketika kita menjaga hutan dan sumber air, kita sedang menjaga keberlangsungan hidup bangsa. Kalau alam rusak, yang runtuh bukan hanya lingkungan, tapi masa depan,” tegasnya.
Pernyataan ini seolah menantang cara pandang lama bahwa kegiatan lingkungan hanyalah aktivitas sukarela tanpa konsekuensi besar. Padahal, dalam konteks krisis ekologis hari ini, kelalaian kecil bisa berujung pada kerusakan besar.
Hal senada disampaikan Kepala Divisi Konservasi dan Lingkungan, Lukmanul Hakim, yang menyoroti lemahnya konsistensi dalam banyak gerakan penghijauan.
“Masalahnya bukan di menanam, tapi di komitmen setelahnya. Tanpa data dan pemantauan, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah pohon itu hidup atau mati. Konservasi harus terukur, bukan sekadar simbolik,” ujarnya.
Apa yang dilakukan di Gunung Congkrang mungkin terlihat sederhana. Namun, justru di situlah letak kekuatannya: membangun sistem, bukan sekadar aksi sesaat.
Kegiatan ini menjadi pengingat keras bahwa krisis lingkungan tidak bisa dilawan dengan seremoni. Ia membutuhkan disiplin, konsistensi, dan keberanian untuk melakukan hal-hal yang tidak selalu terlihat “heroik”.
Dari lereng Gunung Congkrang, satu pesan menguat: menanam pohon itu mudah, tetapi menjaga komitmen itulah perjuangan yang sesungguhnya.














