Cegah Risiko Perubahan Iklim, Desa Mangunkerta Dapat 15 Titik Teknologi Tepat Guna Sanitasi

Cegah Risiko Perubahan Iklim, Desa Mangunkerta Dapat 15 Titik Teknologi Tepat Guna Sanitasi. (Foto : Ist).

Cianjur | Akses terhadap air minum layak dan sanitasi yang baik masih menjadi tantangan besar di banyak desa, terutama bagi keluarga miskin. Keterbatasan ini tidak hanya memicu penyebaran penyakit infeksi berbasis lingkungan seperti diare, disentri, kolera, hingga penyakit kulit, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap tingginya angka kematian bayi dan balita.

Kondisi ini semakin diperparah oleh perubahan iklim. Cuaca ekstrem seperti panas yang berkepanjangan (suhu siang hari bisa mencapai lebih dari 35°C), hujan lebat lebih dari 100 mm per hari yang disertai angin kencang, hingga banjir dan kekeringan, turut memicu penyakit sensitif iklim seperti demam berdarah, malaria, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA/pneumonia), serta diare.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah meluncurkan Petunjuk Teknis Penyaluran Bantuan Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan pada Masyarakat di Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Desa (Teknologi Tepat Guna Sanitasi dan Air Minum) Tahun 2026. Program ini menekankan pentingnya pembangunan sarana yang adaptif terhadap perubahan iklim, artinya sarana tersebut tetap aman dan berfungsi optimal dalam berbagai kondisi iklim tidak mudah rusak akibat banjir atau kekeringan.

Dua bentuk intervensi utama yang dilakukan melalui skema Padat Karya Tunai Desa adalah Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Desa dan Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Lembaga Pendidikan Keagamaan.

Kegiatan ini dirancang secara produktif dengan memanfaatkan sumber daya alam, tenaga kerja, dan teknologi lokal. Tujuannya tidak hanya menurunkan risiko lingkungan dan perilaku tidak sehat, tetapi juga mengurangi kemiskinan serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

Di wilayah Desa Mangunkerta, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, program ini menyasar sebanyak 15 titik lokasi yang tersebar di Kampung Cariu, Burangkeng, dan Kampung Gintung. Teknologi Tepat Guna (TTG) yang diberikan berfokus pada bidang sanitasi.

Hari ini, Senin (11/5/2026), dilakukan monitoring oleh tim gabungan yang terdiri dari Puskesmas setempat, Ketua dan tim pelaksana KKM (Kelompok Kerja Masyarakat) Desa Mangunkerta, Bendahara KKM, Perwakilan pemerintah desa serta Bhabinkamtibmas (Bhabinmas) Desa.

Dengan adanya intervensi ini, diharapkan masyarakat desa dapat menikmati sarana kesehatan lingkungan yang tahan terhadap perubahan iklim, sehingga kesehatan masyarakat tetap terlindungi.

Keberhasilan program ini juga akan mendukung target strategis Kabupaten/Kota Sanitasi Total Berbasis Masyarakat serta mewujudkan Indonesia yang sehat dan mandiri menuju Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *