BEM PTNU Se-Nusantara: Rakyat Kecil yang Tersiksa, Pemerintah Gagal Total!

Muhammad Ikhsanurrizqi, Ketua BEM PTNU Se-Nusantara. (Foto : Rian Sagita).

Jakarta | Bukan sekadar angka, ini pukulan telak! Rupiah benar-benar terjun bebas ke level paling mengerikan Rp17.433 per Dolar AS. Para mahasiswa dari BEM PTNU Se-Nusantara pun tak lagi bisa tinggal diam. Mereka membunyikan alarm paling keras ini adalah bukti nyata kegagalan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi!.

Jatuhnya rupiah bukan cuma guncangan di pasar, tapi sudah menjadi badai dahsyat yang menghantam langsung kantong rakyat. Harga sembako meroket, biaya produksi industri membengkak, dan inflasi menggerogoti daya beli. Yang paling mengkhawatirkan? Impor migas yang melonjak siap menaikkan harga BBM kapan saja. Di tengah itu semua, UMKM tulang punggung ekonomi tercekik dan perlahan mati suri.

Muhammad Ikhsanurrizqi, Ketua BEM PTNU Se-Nusantara, dengan tegas menyatakan: “Cukup dengan janji-janji manis! Anjloknya rupiah hingga Rp17.433 adalah alarm bahaya yang tidak boleh diabaikan. Ini bukan sekadar efek global, tapi karena kebijakan pemerintah yang lembam dan tak punya nyali. Rakyat saat ini menanggung beban yang seharusnya bisa dicegah,”.

Ikhsanurrizqi menyoroti dampak paling nyata: rakyat kecil selalu jadi korban pertama. Harga kebutuhan pokok naik, biaya sekolah dan kesehatan semakin tak terjangkau, sementara penghasilan mereka mandek.

“Ketika rupiah melemah, rakyat kecil yang diinjak. Harga naik, upah mati, negara hilang akal. Ini bukan ekonomi, ini ketidakadilan yang nyata!,” tegasnya, Selasa (5/5/2026).

BEM PTNU pun melontarkan tuntutan keras: stop reaktif, ambil tindakan luar biasa sekarang! Mereka mendesak pemerintah untuk mengerahkan seluruh daya—mulai dari menggenjot cadangan devisa, mengendalikan impor secara agresif, hingga melindungi UMKM dan sektor riil dengan kebijakan yang berpihak.

Ancaman lebih besar juga disampaikan: jika terus dibiarkan, krisis ekonomi akan merambat menjadi krisis sosial dan kepercayaan publik. Ketimpangan makin lebar, kemiskinan melonjak, dan pemerintah bisa kehilangan legitimasi di mata rakyatnya.

Kini, rakyat tak butuh retorika. Mereka butuh aksi. Jika pemerintah terus berpangku tangan, pelemahan rupiah ini bukanlah akhir, melainkan awal dari bencana ekonomi yang lebih dahsyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *