Jakarta, kota yang katanya megapolitan, kota yang sibuk, kota yang modern, kota yang katanya mau bebas banjir sejak era nenek moyang kita tapi entah kenapa, air tetap datang setia.
Tiap lima tahun, gubernur datang silih berganti membawa janji manis.
Normalisasi, naturalisasi, sumur resapan, pompa raksasa, deep tunnel, giant sea wall semua jargon keren itu masuk daftar rencana, tapi yang masuk rumah kita tetap air got campur hujan.
Lalu kita marah, kita protes, kita debat di warung kopi, di media sosial, di grup WhatsApp keluarga. Kita maki pemerintah, kita tuntut solusi. Tapi toh, hujan tetap turun, air tetap mengalir, banjir tetap hadir.
Sampai kapan kita terus begini? Kesel tiap musim hujan, stres lihat air menggenang, ngamuk tiap gubernur kasih solusi tapi akhirnya kita tetap jongkokin motor yang mogok di tengah jalan tergenang?
Sudahlah.
Daripada urat leher naik tiap hujan deras, mending kita balik cara berpikirnya.
Kita nikmati saja takdir ini.
Kalau banjir tak bisa kita tolak, maka kita rangkul. Kalau air tak bisa kita usir, kita manfaatkan.
Daripada panik lihat genangan, kita bikin festival. Bayangkan, tiap awal tahun bukan lagi musim kebanjiran, tapi “Jakarta Water Festival”!
Di sudut-sudut jalan yang biasanya macet karena banjir, kita sulap jadi arena rafting gratis. Jalanan yang dulu penuh mobil mogok, kini berubah jadi Sudirman River Adventure, paket wisata eksklusif naik perahu ember di tengah ibukota.
Para ojol bisa ekspansi usaha jadi “Ojol Terapung”, siap antar penumpang pakai ban dalam bekas atau kasur kapuk yang mengapung gagah melawan arus.
Di perkampungan, kita bikin “Balap Perahu Amigos” alias “Agak Minggir Got Sedikit.” Warga berlomba adu cepat, siapa yang bisa melintasi genangan tanpa nyemplung got. Yang menang dapat piala pelampung emas, yang kalah… yah, paling cuma dapat pengalaman berenang gratis.
Buat yang doyan olahraga, kita bikin “Banjir Triathlon” lari di genangan, renang di gang sempit, dan bersepeda di trotoar yang masih kering. Siapa bisa menyelesaikan rute tanpa kehilangan sandal jepit, dia juara sejati.
Atau kalau ingin lebih kreatif, ayo kita gelar “The Voice of Banjir”, lomba nyanyi di tengah hujan, di genangan air, dengan tantangan utama: bertahan nyanyi sampai habis tanpa tersedak air got.
Pedagang kaki lima jangan kalah inovatif. Kita kasih konsep “Floating Street Food Festival”, kuliner terapung ala Jakarta! Mie ayam, gorengan, kopi keliling—semua bisa dijual di atas perahu dadakan. Beli gorengan sambil kaki terendam air, kan terasa lebih authentic. Bahkan kalau hujan makin deras, kita bisa bikin “Kemang Water Park”, sensasi seluncuran alami di jalanan komplek yang kebanjiran.
Dan untuk kalangan elite yang jarang kena banjir, jangan merasa tertinggal. Mereka bisa jadi sponsor utama festival ini! Mereka yang modalin perahu, pompa air, dan jaket pelampung branded buat limited edition peserta festival. Bisa jadi bisnis baru: “Luxury Flood Experience”, paket wisata khusus buat mereka yang mau nyobain sensasi “hidup susah” di tengah banjir, tapi tetap dengan fasilitas eksklusif.
Bayangkan dampaknya: daripada warga mengeluh dan ngamuk tiap musim hujan, Jakarta jadi kota yang memeluk realitasnya. Daripada politikus sibuk cari cara membendung air tapi ujung-ujungnya air tetap membanjiri kita, mendingan mereka sekalian dukung Jakarta jadi “Ibukota Wisata Banjir Pertama di Dunia”.
Banjir itu takdir, gubernur hanya datang dan pergi. Jadi kenapa kita harus baper? Lebih baik kita nikmati, kita kreatifkan, kita bisnis-kan!
Jakarta Banjir? Jangan Panik, Mari Piknik!
Selamat Hari Raya Imlek
Jalu369














