Akibat Kemarau Panjang, Ratusan Warga Cibeber Rela Antre Demi Mendapatkan Air Bersih

Akibat Kemarau Panjang, Ratusan Warga Cibeber Rela Antre Demi Mendapatkan Air Bersih. (Foto : Sam Apip).

Cianjur, metropuncak.com | Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mulai berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Sejumlah warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih setelah sumur mereka mengering.

Kondisi tersebut terjadi di Kampung Pasir Jariyah, Desa Sukamaju. Setiap hari, warga rela antre untuk mengambil air guna keperluan mandi dan mencuci. Sumber air tersebut selama ini menjadi salah satu tumpuan masyarakat di lima desa di Kecamatan Cibeber.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebanyak 11 desa dan ratusan RT terdampak kekeringan serta minimnya pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebelas desa yang terdampak di antaranya Desa Peteycondong, Cibadak, Salamnunggal, Karangnunggal, Cihaur, Girimulya, Mayak, Cibarebeg, Cikondang, Sukamaju, dan Desa Cibeber.

Camat Cibeber, Ardian, mengatakan bahwa dari total 18 desa di wilayahnya, sebanyak 11 desa telah melaporkan mengalami dampak kekeringan.

“Jadi, berdasarkan laporan dari tiap desa, di Cibeber ini ada 18 desa. Yang melaporkan ada sekitar 11 desa. Ternyata cukup banyak juga,” ujar Ardian, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, kekeringan tersebut berdampak terhadap sekitar 170 RT di Kecamatan Cibeber. Kondisi itu membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih.

“Ada 170-an RT atau titik dari total RT di Cibeber yang berjumlah 610 RT. Berarti hampir sepertiganya mengalami kekeringan lahan dan kekurangan atau minimnya air bersih untuk masyarakat,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa memanfaatkan sumber mata air yang berada di Kampung Pasir Jariyah, Desa Sukamaju. Sumber air tersebut selama ini menjadi salah satu tumpuan masyarakat di lima desa di Kecamatan Cibeber.

Namun, kemarau panjang dan meningkatnya kebutuhan masyarakat membuat debit air di sumber mata air tersebut ikut berkurang.

“Ada memang di Cibeber itu sumber mata air yang digunakan oleh beberapa desa. Letaknya ada di Desa Sukamaju. Itu biasa dipergunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan air bersih, terutama pada saat musim kemarau. Tapi ini kebutuhan meningkat dan debit airnya pun berkurang. Walaupun selalu ada, tetapi tidak mencukupi,” jelasnya.

Ardian menambahkan, pemerintah kecamatan bersama sejumlah instansi dan lembaga terkait terus berupaya memenuhi kebutuhan air bersih warga yang terdampak kekeringan.

Penyaluran air dilakukan dengan menerapkan skala prioritas, terutama bagi wilayah yang paling membutuhkan. Koordinasi dilakukan bersama PMI, Perumdam, Damkar, Polres Cianjur, serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat.

“Antisipasi kita melakukan skala prioritas, mana yang benar-benar membutuhkan air bersih. Terus kita berkoordinasi dengan dinas, instansi, dan lembaga terkait, misalnya dengan PMI, Perumdam, Damkar, dan juga Polres Cianjur,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang warga terdampak, Izni Wahyuni, mengatakan bahwa kekeringan membuat warga harus mengambil air dari sumber mata air secara bergantian. Setiap hari, warga dari berbagai desa datang membawa jeriken dan galon kosong untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Menurut Izni, warga bahkan harus mengantre cukup lama untuk mendapatkan air bersih yang digunakan untuk mandi, mencuci, serta kebutuhan sanitasi lainnya.

Dalam sehari, Izni mengaku bisa mengambil air sebanyak dua kali dengan membawa empat galon. Namun, air tersebut tidak digunakan untuk memasak karena ia memilih membeli air galon untuk kebutuhan konsumsi.

“Sehari itu dua kali, sore saja karena kalau pagi saya kerja. Buat kebutuhan itu saja, buat buang air besar, buang air kecil. Kalau buat masak beli galon,” tuturnya.

Izni menambahkan, kondisi sumur yang mengering membuat dirinya harus menggunakan sepeda motor untuk mengambil air. Ia berharap pasokan air bersih bagi warga terdampak dapat terus disalurkan selama kemarau masih berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Utama