Air Mata di Balik Bilik Lapuk: Anggi, Pemuda Disabilitas yang Terlantar Bersama Kakek-Nenek di Ujung Usia

Anggi, Pemuda Disabilitas (Terbanring) di teras rumah bilik panggung milik kakek neneknya saat di kunjungi tokoh pemuda setempat di Kampung Sarongge Desa Sukajadi, Campaka, Rabu (25/2/2026).

Cianjur | Di sebuah rumah bilik panggung yang hampir robak-robik termakan usia di Kampung Sarongge RT 005/007, Desa Sukajadi, Kecamatan Campaka, Cianjur, tersimpan kisah pilu yang tak terperi.

Di sana Anggi Suherman (20), seorang pemuda penyandang disabilitas fisik sejak lahir, menjalani hari-harinya yang penuh keprihatinan bersama kakek dan neneknya yang sudah renta.

Anggi bukanlah pemuda biasa. Takdir telah mengujinya sejak ia membuka mata di dunia. Keterbatasan fisik menjadi teman setianya. Namun ujian hidup tak berhenti di situ. Sang ibu tercinta, Enah, telah lebih dulu berpulang ke rahmatullah. Sementara ayahnya, Sanudin, memilih membangun rumah tangga baru, meninggalkan Anggi dalam pelukan waktu yang semakin menua.

“Setelah ibunya meninggal dunia dan bapak menikah lagi, Anggi tinggal sama saya,” tutur neneknya dengan suara bergetar, matanya menerawang menahan pilu.

Namun siapa sangka, pelukan hangat kakek-neneknya itu ternyata berada di tengah gempuran kemiskinan yang tak kalah perihnya. Rumah bilik panggung yang mereka tempati sudah reyot, papan-papannya lapuk dimakan usia. Lantai papan yang kini berlubang di sana-sini, serta dinding bilik yang sudah bolong, menjadi saksi bisu perjuangan mereka bertahan hidup.

Setiap senja, kakek dan nenek Anggi harus memeras keringat menjadi kuli tani, itupun jika ada tetangga atau warga yang membutuhkan tenaga mereka. Kadang bekerja, kadang tak mendapat panggilan.

Penghasilan kedua lansia itu pun tak menentu, sementara kebutuhan sehari-hari tak bisa ditunda. Di usianya yang tak lagi muda, keduanya harus tetap banting tulang demi menyambung hidup dan merawat cucunya yang tak berdosa.

Anggi hanya bisa terdiam di sudut rumah panggungnya, menyaksikan kedua orangtua yang membesarkannya dengan penuh cinta harus berjuang melawan waktu dan usia. Senyumnya terkadang mengembang saat kakek pulang membawa sedikit rezeki, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan kepedihan mendalam melihat kelelahan di wajah mereka.

Kondisi yang sangat memperihatinkan ini jelas mengiris hati siapa pun yang melihatnya. Di usianya yang masih muda, Anggi tak bisa berbuat banyak. Kakek dan neneknya pun semakin renta dimakan waktu. Sementara ekonomi tak kunjung membaik sementara kebutuhan terus mendesak.

Di tengah segala kekurangan, mereka masih punya mimpi sederhana: bisa makan dengan cukup, tidur tanpa khawatir bilik ambruk, dan menjalani hidup dengan tenang di sisa usia. Namun tanpa uluran tangan para dermawan, mimpi itu mungkin hanya akan menjadi angan di tengah sunyinya malam.

Bilik panggung itu kini menjadi saksi, bahwa di balik senyum Anggi dan cucuran keringat kakek-neneknya, ada tangis yang tertahan dan harapan yang tak padam akan datangnya pertolongan.

Bagi dermawan yang tergerak hatinya untuk meringankan beban Anggi dan kakek-neneknya, dapat menyalurkan bantuan melalui koordinator setempat atau langsung mendatangi kediaman mereka di Kampung Sarongge RT 005/007, Desa Sukajadi, Kecamatan Campaka, Cianjur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *