Puluhan Hektar Sawah di Cianjur Gagal Panen Akibat Kekeringan. (Foto : Sam Apip).
Cianjur, metropuncak.com,- Puluhan hektar lahan pertanian di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, mengalami gagal panen akibat kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut. Salah satu yang terdampak paling parah adalah Kelompok Tani Sukamulya di Desa Sindangsari yang seluruh lahannya mengalami kekeringan.
Ketua Kelompok Tani Sukamulya, Didang Suryana (40), menjelaskan bahwa gagal panen ini disebabkan oleh sulitnya akses air irigasi. Air dari saluran irigasi teknis tidak dapat mencapai area persawahan di bagian hilir karena telah terlebih dahulu dimanfaatkan oleh petani di bagian hulu. Meskipun para petani telah berupaya mengairi sawah menggunakan pompa dari sumur artesis, debit air tetap tidak mencukupi sehingga tanaman padi mengering dan mati.
Kelompok tani yang beranggotakan 42 petani tersebut menggarap lahan sawah seluas 20 hektare. Seluruh area terdampak kekeringan dengan tingkat kerusakan yang bervariasi. Didang merinci, sekitar 10 hektare masih bisa dipanen namun hasilnya kurang maksimal. Kemudian, 5 hektare lainnya hanya mampu menghasilkan separuh dari produksi normal, sementara 5 hektare sisanya dinyatakan gagal total karena tanaman padi mati kering tanpa menghasilkan bulir.
“Berdasarkan laporan anggota, 10 hektare bisa dipanen tapi hasilnya kurang maksimal, 5 hektare separuhnya bisa dipanen, dan 5 hektare total tidak bisa dipanen karena kering mati,” ujar Didang.
Akibat kejadian ini, kelompok tani diperkirakan menderita kerugian finansial yang cukup besar. Untuk lahan yang gagal total seluas 5 hektare saja, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp105 juta. Didang juga menambahkan bahwa fenomena serupa tidak hanya terjadi di kelompoknya, melainkan juga menimpa Kelompok Tani di Kampung Cikirenjo, Desa Sindangsari, meskipun luas lahan yang terdampak belum diketahui secara pasti.
Sementara itu, upaya pendampingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat pun terkendala. Petugas PPL disebutkan rutin memantau kondisi tanaman, namun mereka kesulitan melakukan antisipasi karena faktor utama, yaitu kekeringan, masih berlangsung. Aliran irigasi yang tidak sampai ke desa serta keterbatasan pompa artesis menjadi hambatan terbesar di tengah musim kemarau yang berkepanjangan.
“PPL sering datang ke lapangan untuk memantau kondisi tanaman padi. Namun, karena faktor air, kami sangat kesulitan untuk antisipasi. Air irigasi tidak sampai ke Desa Sindangsari dan pompa artesis tidak kuat untuk mengairi seluruh lahan,” pungkas Didang.








