50 Relawan Gereja di Sumatera Utara Ikuti Pelatihan Koordinasi dan Tanggap Darurat Bencana. (Foto: Ist).
Sibolga | Sebanyak 50 relawan dari berbagai gereja di Sumatera Utara mengikuti pelatihan koordinasi dan tanggap darurat bencana yang berlangsung pada 13–14 Februari 2026 di Kota Sibolga. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara gereja dan sejumlah lembaga kemanusiaan yang bertujuan meningkatkan kapasitas relawan dalam penanggulangan bencana.
Pelatihan ini terselenggara atas kerja sama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), JAKOMKRIS PBI, YEU, CDRM, PELKESI, FONDASI HIDUP, UEM, ACTALLIANCE, dan MDS. Peserta berasal dari wilayah Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Humbang Hasundutan, mewakili lintas denominasi gereja.
Materi yang disampaikan meliputi sistem penanggulangan bencana di Indonesia, mekanisme koordinasi dan pengelolaan bantuan saat tanggap darurat, serta kode etik pelayanan kemanusiaan. Sebagian besar peserta telah memiliki pengalaman mengelola pos tanggap darurat banjir, sehingga diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai cerita pembelajaran dari lapangan. Hadir pula Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah, Boga Jontara Ambarita, ST, sebagai salah satu narasumber.
Dalam kesempatan itu, Boga Jontara menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana yang dapat terjadi kapan saja.
“Bencana yang terjadi dan menimbulkan dampak besar di sebagian besar wilayah Sumatera dan Tapanuli Tengah memberi pembelajaran berharga. Gereja sebagai bagian dari masyarakat dapat berperan aktif dalam penanggulangan bencana. Pelatihan ini sangat baik untuk terus meningkatkan kemampuan kita ke depan,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).
Masih dilokasi yang sama, Staf Biro Pengurangan Risiko Bencana (PRB) PGI, Herman Agustinus, yang turut hadir, mengapresiasi kolaborasi lintas lembaga dalam kegiatan ini.
“Kami berharap koordinasi dan kolaborasi yang baik ini terus berlanjut. PGI berkomitmen mendorong penguatan kapasitas gereja agar semakin tangguh dalam menghadapi bencana. Pelatihan ini menjadi wadah berbagi pembelajaran dan meningkatkan pemahaman pengelolaan tanggap darurat yang lebih baik,” katanya.
Senada dengan itu, Ketua Badan Pengarah JAKOMKRIS PBI, Banu Subagyo, menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak cukup hanya bermodal niat baik. “Perlu dikelola secara baik, bertanggung jawab, dan akuntabel. Pelatihan ini adalah bagian dari kerja kolaborasi dan berbagi sumber daya, baik gereja maupun lembaga-lembaga Kristen yang melayani di Sumatera,” tegasnya dalam sambutan.
Proses pelatihan diisi dengan pemaparan materi, diskusi, dan praktik kelompok. Fasilitator Amice Ajaawalia berulang kali mengingatkan pentingnya data dan informasi yang akurat dalam situasi tanggap darurat.
“Data yang menjelaskan kondisi dan dampak bencana menjadi dasar menentukan dukungan sesuai kapasitas kita. Pastikan bantuan terkontrol, terkelola baik, dan akuntabel. Prioritaskan kelompok berisiko seperti lansia, disabilitas, dan anak-anak,” paparnya.
Para peserta antusias mengikuti setiap sesi. PdT Wiliam Limbong, peserta dari HKBP, mengungkapkan rasa syukurnya, banjir bandang di Sibolga dan Tapanuli Tengah memberi pelajaran penting tentang perlunya kesiapsiagaan.
“Kami sadar terbatasnya pengalaman dan pengetahuan saat bencana terjadi. Pelatihan ini membuat kami lebih paham pengelolaan bantuan dan koordinasi dengan para pihak terkait,” tuturnya.
Hal senada disampaikan PdT Veriani Cristiani Waruwu, peserta dari GNKPI mengatakan bahwa pelatihan tersebut baru pertama kali yang diikutinya, sehingga dirinya pun merasa sangat bersyukur.
“Selama ini kami belum banyak berpikir untuk membangun kesiapsiagaan. Kini kami paham pentingnya kerja sama dan kesiapsiagaan gereja, sehingga jika bencana tak terduga terjadi, kami bisa lebih siap,” ungkapnya.
Para peserta berharap kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan. Mereka juga berkomitmen menyampaikan hasil pelatihan kepada pimpinan gereja masing-masing untuk ditindaklanjuti.










