Tanaman Jagung dan Ternak Ayam Petelur BUMDes Kertajaya Sawarga Gagal Panen Akibat Cuaca Ekstrem. (Foto: Sam Apip).
Cianjur | Usaha ketahanan pangan berupa peternakan ayam petelur dan perkebunan jagung manis yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kertajaya Sawarga di Desa Kertajaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengalami gagal panen sepanjang tahun 2025. Penyebab utama adalah faktor alam, yakni tingginya intensitas curah hujan yang tidak menentu.
Wahid (45), salah seorang pengelola peternakan ayam petelur BUMDes Kertajaya Sawarga, menerangkan bahwa awalnya produksi telur dari 690 ekor ayam mencapai target sekitar 15 hingga 20 kilogram per hari. Namun, angka tersebut dinilai belum maksimal karena dalam kondisi normal, produksi ideal diperkirakan mencapai 30 kilogram per hari.
Menurutnya, penurunan produksi mulai terasa sejak periode Oktober hingga November 2025. Hujan terus-menerus mengguyur kawasan Desa Kertajaya tanpa jeda, bahkan sempat berlangsung selama sepekan penuh.
“Dari situ produksi telur terus menurun. Dari biasanya 20 kg per hari, turun jadi 17 kg, lalu 15 kg, 9 kg, dan terakhir hanya 5 kg per hari,” ujar Wahid.
Ia menambahkan, berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan produktivitas ayam, termasuk pemberian vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Namun, kondisi cuaca yang ekstrem membuat upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
“Kami sudah mencoba berbagai cara, tetapi produksi tetap drop drastis hingga 5 kg per hari,” keluhnya.
Wahid menyebutkan bahwa seluruh rangkaian kejadian ini diketahui oleh pengurus BUMDes, Kepala Desa, serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kertajaya. Pihak pengelola bahkan telah menggelar musyawarah dan memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan peternakan ayam petelur.
Sementara itu, tim teknis pengelola kebun jagung manis BUMDes Kertajaya, Anan (42), melaporkan nasib serupa. Lahan jagung seluas 3,2 hektar yang tersebar di beberapa lokasi awalnya menunjukkan pertumbuhan yang baik hingga usia tiga pekan.
Namun, curah hujan tinggi pada Oktober-November 2025 menyebabkan lahan persawahan terendam banjir. Meskipun telah dilakukan upaya perbaikan parit untuk mempercepat surutnya air, hujan yang terus-menerus justru membuat genangan air semakin meluas.
“Akibatnya, daun jagung menguning, sulit berbuah, dan banyak tanaman yang mati karena terendam,” jelas Anan.
Ia mengungkapkan, dalam kondisi normal, lahan seluas itu ditargetkan mampu menghasilkan 30 ton jagung manis. Namun, akibat cuaca ekstrem, panen hanya mencapai 1,5 ton—jauh dari target yang diharapkan.
Ketua BUMDes Kertajaya Sawarga, Atep Kurniawan, membenarkan bahwa kedua usaha ketahanan pangan tersebut mengalami gagal panen akibat faktor alam. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Kertajaya, BPD, serta melaporkan kejadian ini kepada Pemerintah Kabupaten Cianjur melalui dinas instansi terkait dan Kecamatan Ciranjang.
“Kami telah melaksanakan musyawarah dengan Pemerintah Desa dan BPD, yang hasilnya dituangkan dalam berita acara. Laporan juga sudah disampaikan ke Pemkab Cianjur dan pihak kecamatan,” pungkas Atep.








