Simulasi Penanggulangan Bencana Tingkatkan Kesiapsiagaan di Desa

Simulasi Penanggulangan Bencana Tingkatkan Kesiapsiagaan di Desa. (Foto: Net). 

Cianjur | Dalam upaya membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, Kumpulan Relawan Pengurangan Risiko Bencana (Kawan PRB) menyelenggarakan simulasi penanggulangan bencana yang komprehensif di Sarongge Valey Desa Ciputri, Pacet, Cianjur, Minggu, 5 Oktober 2025.

Kegiatan ini dirancang untuk mengasah kemampuan koordinasi dan tanggap darurat seluruh unsur terkait.

Budi Santoso, Ketua Kawan PRB, dalam keterangannya menjelaskan bahwa simulasi ini terbagi menjadi empat materi utama untuk mencakup seluruh aspek penanganan darurat.

“Melalui keempat tahapan simulasi ini, kami berharap seluruh peserta dapat meningkatkan kemampuan koordinasi, komunikasi, serta pengambilan keputusan cepat saat menghadapi situasi bencana sesungguhnya,” ujar Budi.

Empat Pilar Simulasi itu adalah:

1. Simulasi Rapat Koordinasi (Rakor):

Kegiatan diawali dengan simulasi rapat yang melibatkan pemerintah desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, TNI-Polri, dan perwakilan masyarakat. Setiap unsur mempraktikkan perannya sesuai prosedur darurat. Menurut Budi, rakor ini bertujuan untuk menyelaraskan langkah, menentukan prioritas, dan membagi peran agar penanganan bencana berjalan cepat dan terkoordinasi.

2. Simulasi Ruangan (Command Room Simulation):

Latihan berlanjut di ruang komando, di mana tim berlatih mengatur alur informasi, memetakan wilayah terdampak, dan mengambil keputusan strategis. Tim data memanfaatkan peta rawan bencana dan laporan lapangan untuk analisis situasi, sementara pimpinan posko mengeluarkan instruksi teknis.

3. Simulasi Komunikasi dan Lapangan:

Pada tahap ini, peserta mempraktikkan komunikasi darurat menggunakan radio HT dan telepon satelit. Sementara itu, tim lapangan langsung mempraktikkan evakuasi korban, pengaturan jalur aman, dan penanganan pertama di lokasi kejadian. Latihan ini menekankan kecepatan dan keakuratan informasi antara lapangan dan posko.

4. Simulasi Posko:

Sebagai penutup, peserta mendirikan posko darurat lengkap dengan tenda, mengatur logistik, serta membuat papan data pengungsi dan laporan harian. Simulasi ini melatih peserta untuk memahami fungsi posko sebagai pusat kendali operasi tanggap darurat.

Sebagai wujud komitmen bersama, Budi Santoso menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar latihan, tetapi merupakan wujud nyata komitmen bersama antara pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, dan masyarakat dalam mewujudkan desa yang tangguh bencana.

“Dengan semua elemen memahami peran dan tugasnya, kami yakin dampak bencana dapat diminimalisir dan penanganannya dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien dan hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model untuk desa-desa lain dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang andal dan berkelanjutan, ” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *