Pohon Doyong Pinggir Jalan Raya Bukan Bencana Alam, Tapi Bukti Kelalaian Pemerintah!
Oleh : Brody Janner
Bayangkan Anda sedang menyetir di tengah hujan, tiba-tiba melihat pohon besar yang sudah doyong siap tumbang ke arah Anda. Itulah pemandangan mengerikan yang sehari-hari dihadapi warga Cianjur. Situasi ini bukan lagi sekadar “kekhawatiran,” melainkan ancaman nyata yang dibiarkan oleh pemerintah daerah.
Fakta di lapangan berbicara jelas, pohon-pohon pelindung yang seharusnya menjadi kebanggaan kota, kini berubah menjadi “bom waktu ekologis.” Akar yang tidak stabil akibat erosi, usia tua, dan yang paling parah pelebaran jalan yang tanpa memikirkan ruang hidup pohon menjadi bukti nyata ketiadaan perencanaan yang berkelanjutan.
Di mana peran Dinas Lingkungan Hidup, Tata Ruang, dan PUPR Kabupaten Cianjur? Apakah tugas mereka hanya menanam, lalu melupakan? Apakah mereka baru akan bergerak setelah ada pohon tumbang, listrik padam, mobil tertimpa, atau na’uzubillah nyawa melayang?
Kita sudah muak dengan pola kerja reaktif ala “pemadam kebakaran.” Ketika masalah sudah viral di media sosial, barulah mereka heboh turun tangan. Itu bukan kinerja, itu gugup karena publik marah.
Kami, publik, menuntut lebih dari sekadar janji. Kami menuntut aksi sistematis dan nyata:
1. Audit Total, Sekarang! Lakukan pendataan dan audit menyeluruh terhadap semua pohon tua dan doyong, terutama di jalur padat. Jangan tunggu bencana.
2. Pemangkasan dan Peremajaan, Bukan Penebangan! Ganti pohon-pohon berisiko tinggi dengan jenis yang lebih kuat dan aman. Ini soal keselamatan, bukan sekadar penghijauan.
3. Sinergi, Bukan Saling Lempar Tanggung Jawab! DLH, PUPR, PLN, dan BPBD harus duduk bersama membuat protokol penanganan cepat untuk pohon di dekat jaringan listrik dan jalan utama. Stop birokrasi yang lamban!
4. Transparansi dan Kemudahan Aduan! Sosialisasikan kanal pelaporan yang jelas dan responsif. Warga ingin jadi mitra, tapi pemerintah harus menyediakan jalurnya.
5. Revolusi Tata Ruang Hijau! Rancang ulang ruang hijau kota dengan prinsip keamanan dan keberlanjutan. Hijau itu harus aman, bukan justru mengancam.
Cuaca ekstrem adalah ujian, tapi kelalaian adalah pilihan. Pemerintah Cianjur telah memilih untuk lalai dengan membiarkan warganya hidup dalam bayang-bayang ancaman.
Kami tidak butuh slogan “kota hijau” yang indah di atas kertas. Kami butuh komitmen nyata dan keberpihakan pada keselamatan warga. Turun ke lapangan, buktikan bahwa nyawa kami lebih berharga daripada laporan-laporan administratif yang menumpuk di meja.
Cianjur layak mendapatkan yang lebih baik. Waktunya berbenah sebelum kita semua menyesal.








