Penjarahan Di Rumah Kader Partai, Kemana Loyalis Sang Kader?

Penjarahan Di Rumah Kader Partai, Kemana Loyalis Sang Kader?. (Foto: Ilustrasi).

Refleksi Kritis Atas Catatan Subjektif Penulis

Rumah beberapa orang kader partai dijarah massa. Bukan karena mereka lapar, bukan pula karena mereka haus harta. Penjarahan itu adalah simbol, bahwa rakyat sedang menagih janji, sedang menguji konsistensi, sedang mengukur apa arti loyalitas politik di negeri ini. Dan pertanyaan paling menyakitkan muncul di situ, kemana loyal?.

Kader Kader partai yang katanya dibesarkan dengan puluhan ribu suara, yang katanya punya basis kuat di dapilnya, ternyata berdiri sendirian ketika rumahnya digeruduk. Tak ada pagar tubuh, tak ada massa tandingan, tak ada satu pun yang rela pasang badan.

Padahal, di kertas rekapitulasi KPU, suaranya ribuan, bahkan puluhan ribu. Tapi di jalan, suaranya nihil. Yang tersisa hanya pintu jebol, perabot berantakan, dan cerita pahit bahwa angka elektoral tak pernah sama dengan loyalitas.

Logikanya sederhana jikalau benar suara rakyat yang diklaim itu lahir dari kesetiaan, mestinya suara itu menjelma jadi barisan yang setia. Mestinya ada yang berjaga, ada yang menghalangi, ada yang berdiri di depan rumah kadernya. Tapi kenyataannya, loyalitas itu hanya hidup di TPS, mati setelah tinta ungu mengering.

Kader partai di Indonesia, sekuat apa pun modal politiknya, ternyata adalah sosok sendirian ketika legitimasi diuji.

Ini bukan Eko Patrio, Uya Kuya, Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach, bukan hanya soal rumah rumah mewah mereka. Ini cermin retak seluruh sistem kepartaian kita.

Partai politik gagal menanamkan kesetiaan ideologis. Mereka hanya mencetak kontrak elektoral. Hasilnya? Kader bisa kaya raya, bisa duduk di kursi empuk, tapi rumahnya tidak lebih aman dari pos ronda kosong di kampung. Rakyat bisa memilih, tapi tidak ada yang rela membela.

Refleksi kritisnya jelas, bahwa partai di negeri ini harus berhenti menjadikan rakyat sekadar angka. Kaderisasi harus melahirkan militansi, bukan sekadar mesin kampanye.

Loyalitas bukan dibeli dengan sembako atau amplop, tapi dibangun dengan kepercayaan yang konsisten, dari keseharian hingga kebijakan. Kalau tidak, setiap kader akan bernasib sama, sendirian di tengah rumah yang dijarah, ditonton publik sebagai tontonan sinis, dan ditinggalkan oleh loyalis yang sebenarnya tak pernah ada.

Konstruktifnya, momen ini harus dijadikan pukulan kesadaran bagi semua partai, bahwa tanpa loyalis sejati, tanpa basis yang militan, partai hanya akan jadi perusahaan politik yang memproduksi angka, bukan gerakan.

Dan sekali rakyat sadar bahwa partai hanyalah papan nama tanpa rumah, mereka tidak segan menjadikan rumah kader sebagai pasar loak spontan.

Maka pertanyaan tajam itu tetap menggantung: kemana loyalis sang kader? Jawabannya pahit tapi jelas, tidak banyak, karena sedikit aksi kaderisasi nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *