Pembangunan TPT di Desa Mekarsari Diduga Asal jadi Pengawasannya dipertanyakan.
Cianjur | Pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di Kampung Raweuy RT 002/007, Desa Mekarsari, yang menggunakan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2025 senilai Rp45.783.000, dikeluhkan warga karena dianggap dikerjakan asal-asalan (Asal jadi).
Proyek tersebut memiliki panjang 95,4 meter (tinggi 0,6 meter) dan 72 meter (tinggi 0,7 meter), namun proses pengerjaannya dinilai tidak memenuhi standar. Sehingga pengawasan pemerintah desa dipertanyakan.
Warga setempat yang turut serta mengangkut material mengungkapkan, pembangunan TPT hanya memakan waktu dua hari diduga yang tidak dilakukan proses penggalian tanah terlebih dahulu.
“TPT-nya tidak digali, langsung dipasang. Adukannya mudah dipecahkan pakai tangan, dan hasilnya pun tidak rapi,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Rabu 01/05/2025 kemarin.
Berita Terkait:
Ketua RT setempat, Siti R, mengaku tidak memahami teknis pembangunan karena pengerjaan diserahkan kepada pihak ketiga oleh pihak desa.
“Saya hanya mengajukan, pengerjaannya dipercayakan ke orang desa. Silakan tanya ke orang desa,” ujarnya, Minggu 04/05/2025.
Sementara itu, Kepala Desa Mekarsari, Ujang Rahmat, membantah dugaan pekerjaan asal-asalan. Saat ditanya standar kerapian TPT, ia malah balik bertanya, “Standar rapi itu seperti apa menurut bapak?,” Ia mengaku sudah meninjau lokasi dan menganggap pekerjaan berjalan biasa saja.
Ketika dikonfirmasi soal tidak adanya penggalian tanah, Ujang menjelaskan, kalau tidak digali, bisa hanyut terbawa air saat hujan besar, namun, ia berjanji akan memeriksa ulang bersama pelaksana proyek.
Selain itu, warga juga mempertanyakan ketiadaan papan proyek yang mencantumkan spesifikasi teknis dan durasi pengerjaan.
“Saya akan memanggil Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) untuk klarifikasi,” kata Ujang dalam sambungan telepon seluler, Minggu 04/05/2025.
Terkait pengerjaan proyek tersebut, lanjut Ujang, dirinya mengaku khawatir cuaca buruk mengganggu proyek.
“Maka dari itu, saya instruksikan agar pekerja lebih banyak karena takut kehujanan. Nanti kita bisa perbaiki bersama, saya tidak mau pekerjaan desa dinilai buruk,” tegasnya.
Meski berjanji memberikan yang terbaik, Ujang mengakui tidak mengetahui kondisi di lapangan secara detail.
“Saya ingin pembangunan tidak rusak dalam satu dua bulan, tapi saya tidak paham teknisnya,” tutupnya.
Proyek ini menuai sorotan karena menggunakan anggaran desa yang seharusnya dikerjakan dengan standar jelas. Warga berharap ada evaluasi dan perbaikan agar TPT benar-benar berfungsi optimal.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan dari TPK pembangunan TPT tersebut, padahal dirinya sudah berjanji akan melihat, meninjau dan mengukur ulang volume proyek yang dikelolanya.***








